Di antaranya, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Francois Hollande. Hingga kini, hanya Jerman dan Belanda yang mendukung penuh tuntutan Inggris. ’’Keuntungannya akan lebih banyak ketimbang kerugiannya jika terjadi Brexit,’’ papar Merkel. Brexit merupakan singkatan dari Britain exit –mengacu kepada ancaman Inggris untuk meninggalkan UE jika permintaannya tidak terakomodasi dengan baik.
Namun, kanselir perempuan itu juga menyadari bahwa dialog untuk mencapai kesepakatan tentang reformasi UE karena Brexit juga bukan perkara gampang. Empat negara di kawasan Eropa Timur menyatakan keberatan dengan tuntutan Cameron. Terutama, yang berkaitan dengan kesejahteraan.
Dalam proposalnya, Inggris meminta UE mengubah aturan tentang jaminan kesejahteraan bagi para pekerja UE. Bagi Inggris, aturan tersebut terlalu longgar dan menguntungkan para pekerja yang merupakan kaum pendatang tersebut.
Selama ini para pekerja UE yang mencari nafkah dan menetap di Negeri Ratu Elizabeth II itu bisa menikmati fasilitas layaknya penduduk Inggris. Mulai jaminan kesejahteraan, asuransi kesehatan, dan jaminan pendidikan anak-anak para pekerja UE tersebut.
