Gorontalo, Hargo.co.id – Di awal tahun 2018, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Gorontalo sudah mencapai enam kasus dan satu diantaranya dinyatakan meninggal dunia karena positif menderita DBD.
Untuk Kecamatan Limboto sendiri sudah masuk dalam status zona merah. Pasalnya, sembilan kelurahan di Kecamatan Limboto sendiri dinyatakan sudah menjadi wilayah endemik DBD yang setiap tahunnya terdapat kasus serupa.
Dari informasi yang dirangkum Gorontalo Post, meski pihak medis sering melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di wilayah rawan DBD tersebut, namun Kecamatan Limboto masih saja menjadi wilayah endemik. Bahkan, tahun 2017 kemarin, tercatat dari 151 kasus di Kabupaten Gorontalo, sebagian besar berasal dari Kecamatan Limboto.
Dimana sembilan kelurahan terindikasi sebagai wilayah endemik DBD, sedangkan tiga kelurahan lainnya masih tergolong wilayah sporadik atau jumlah kasusnya berubah.
Dengan begitu ada 12 kelurahan dari 14 kelurahan di Kecamatan Limboto yang sering diserang penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti ini. Penderita yang terserang DBD ini pun didominasi oleh anak dibawah umur 10 tahun.
Masih tingginya kasus DBD hingga saat ini juga disebabkan kurangnya kesadaran warga yang masih kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan.
Sri Susanti Laumewa, Sanitarian Puskesmas Limboto mengungkapkan jika pihaknya rutin melakukan pemeriksaan dan penyelidikan epidemiologi sehingga diketahui beberapa warga terindikasi mengidap DBD yang beberapa diantaranya? dirujuk ke rumah sakit setempat.
Dia juga mengatakan, pihak Puskesmas Limboto juga terus melakukan tindakan pencegahan penularan DBD dengan berbagai cara. “Jadi kita juga lakukan pemberantasan sarang nyamuk karena fogging hanya akan membunuh nyamuk dewasa, bukan jentiknya,” kata Sri.
Khusus di Kecamatan Hunggaluwa, dimana terdapat korban bocah umur 6 tahun, pihaknya terus melakukan yang terbaik.
“Di Kelurahan Hunggaluwa sendiri, kami juga dibantu unsur TNI juga masyarakat untuk pemberantasan sarang nyamuk karena mengantisipasi penyebaran DBD yang pada awal tahun ini ditemukan sudah enam kasus dan empat diantaranya di Kecamatan Limboto,” katanya.
Sayangnya, hingga heboh kasus meninggalnya Tiara Arifah, Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, tiga hari belakangan ini, belum memberikan komentar sama sekali terkait penanganan penyakit DBD ini.(tr-56)
