Daya Tampung Hanya 15, Terima Pasien Sampai 23 Orang, RS Jiwa Tumbulilato Over Kapasitas

×

Daya Tampung Hanya 15, Terima Pasien Sampai 23 Orang, RS Jiwa Tumbulilato Over Kapasitas

Share this article
Rumah Sakit Tumbulilato yang berlokasi di Kecamatan Bone mulai kelebihan kapasitas.

GORONTALO, Hargo.co.id – Jumlah pasien yang menderita sakit jiwa di Gorontalo dari tahun ke tahun terus meningkat. Sementara itu rumah sakit Tumbulilato sebagai satu-satunya rumah sakit rujukan pasien gangguan jiwa di Gorontalo sudah over kapasitas.

Saat ini, jumlah pasien yang di rawat di tempat itu sudah mencapai 23 orang. Padahal idealnya, kapasitas RS Tumbililato hanya mampu menampung 15 pasien saja. RS Jiwa Tumbulilato, Daya Tampung Hanya 15, Terima Pasien Sampai 23 Orang

Direktur RS Tombulilato dr. Milyadi Maksum mengungkapkan, kondisi rumah sakit jiwa Tumbililato memang belum mampu menampung pasien dalam jumlah yang besar. Selain karena tenaga medis yang terbatas, kondisi bangunan pun tidak cukup luas.

RS Tumbililato hanya memiliki 3 ruang isolasi, dan 4 ruang perawatan. Ada pun tenaga medis yang ada terdiri 8 perawat dan 7 dokter umum. Sedangkan dokter sepesialis yang khusus menangani pasien jiwa hanya 1 orang saja.

“Dengan kondisi seperti ini, normalnya, kita hanya bisa menampung 15 orang. Tapi karena yang dirujuk ke tempat ini ada banyak, kita terpaksa menerimanya. Jumlah yang kita rawat sekarang ada 23 orang,” tuturnya.

Lebih lanjut disampaikan Milyadi, khusus ketersediaan obat khusus ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) di RS Tumbililato, untuk saat ini masih terpenuhi. Mantan Kabid Pelayanan RS Toto Kabila ini mengatakan, pihaknya telah bekerja sama dengan instalasi farmasi Kabupaten Bone Bolango (Bonebol) untuk penyediaan obat ini.

“Tapi walaupun begitu, kita tetap akan menambah lagi. Sekadar menjaga saja. Sebab, biasanya ada pasien jiwa yang di antar ke RS Tumbililato dan tidak membawa obat dari puskesmas atau rumah sakit yang merujuk,” ungkapnya.

Tidak lepas dari persoalan ini pula, Milyadi menyampaikan ada masalah krusial lainnya yang sering dihadapi pihak rumah sakit.

Dia mengatakan, terkadang, upaya penyembuhan yang telah dilakukan oleh RS Tumbililato tidak disambut positif oleh keluarga pasien. Sebab, ada pengalaman sebelumnya, pasien yang sudah dinyatakan pulih dalam artian sudah stabil pikirannya dan punya kemandirian, tapi tidak diterima pihak keluarga.

“Kemarin, ada satu dua orang pasien sudah bisa mandiri dalam mengerjakan suatu hal. Ketika kami antar pulang, keluarga menolak. Ini yang jadi masalah kita yang butuh kesadaran keluarga,” pungkasnya. (tr-59)