Saturday, 25 September 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Debat Pilwako Ricuh, Paslon-TS Cekcok

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Tuesday, 19 June 2018 | 10:05 AM Tags: ,
  

GORONTALO, Hargo.co.id – Debat Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota (Pilwako) Gorontalo kembali diwarnai kericuhan. Massa pendukung pasangan nomor urut 1 Adhan Dambea-Hardi Hemeto (ADHA) dan pasangan nomor urut 2 Marten Taha-Ryan F. Kono (MATAHARI) nyaris baku pukul.

Bahkan, cekcok mulut sempat terjadi antara calon wali kota (Cawali) Adhan Dambea dengan Sekretaris Tim Pemenangan MATAHARI Totok Bachtiar.

Akibat kericuhan, tiga pendukung pasangan calon dikeluarkan. Selain itu jalannya debat sempat dihentikan sementara untuk menenangkan situasi.

Sebelumnya suasana panas sudah terasa sejak dimulainya pemaparan visi misi masing-masing paslon berkaitan pelayanan publik untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.

Masing-masing paslon saling singgung dan pamer keberhasilan yang pernah dibuat. Baik sebagai Wali Kota Gorontalo maupun Bupati Boalemo. Sorak-sorak pendukung makin membuat suasana kian ramai.

Di tengah perdebatan yang makin panas itu, moderator Agus Lahinta mengingatkan kepada para paslon agar tak menyerang indivual/personal. Termasuk penyebutan nama tertentu.

Puncaknya, ketika memasuki sesi debat antara paslon. Moderator Agus Lahinta memberikan kesempatan kepada paslon ADHA untuk menyampaikan pertanyaan kepada paslon MATAHARI.

Cawali Adhan Dambea mengajukan pertanyaan soal informasi yang beredar mengenai rencana pemeriksaan Wali Kota Marten Taha oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo.

“Sebagai incumbent, saya ingin tahu dalam rangka apa bapak akan diperiksa,” tanya Adhan Dambea.

Pertanyaan itu membuat Marten Taha bereaksi, dan balik bertanya kepada moderator apakah dirinya bisa mengajukan pertanyaan yang sama. Dalam artian pertanyaan di luar tema debat.

Pertanyaan itu disikapi Agus Lahinta dengan mengoreksi pertanyaan yang disampaikan Adhan Dambea agar sesuai tema. Namun Adhan menyanggah bila pertanyaan itu ditujukan kepada Marten Taha dalam kapasitas sebagai petahana (incumbent).

“Saya belum tahu dalam soal apa saya akan diperiksa. Dan apabila saya diberi kesempatan untuk menjelaskan di depan aparat hukum maka saya akan penuhi,” jawab Marten Taha.

Jawaban Marten Taha disahuti Adhan Dambea dengan menyatakan bahwa sudah jelas pemanggilan tersebut berkaitan dengan pembangunan tujuh ruas jalan di Dungingi. Sanggahan Adhan tersebut membuat massa pendukung antar paslon saling sorak. Suasana pun kian panas.

“Kalau diizinkan sebenarnya saya mau bertanya karena saya punya data-data siapa saja yang menghuni hotel predeo. Tetapi karena tak bisa, maka saya persilakan calon wakil wali kota untuk menyampaikan pertanyaan,” ucap Marten Taha ketika mendapat kesempatan mengajukan pertanyaan kepada Paslon ADHA.

Cawawali Ryan F.Kono lantas mengajukan pertanyaan mengenai peningkatan pelayanan publik untuk peningkatan kesejahteraan. Pertanyaan itu dijawab Cawawali Hardi Hemeto dengan menyampaikan sejumlah program yang akan dilakukan oleh pasangan ADHA. Mulai dari penataan birokrasi pelayanan, infrastruktur hingga sumber daya manusia (SDM).

Usai Hardi memberikan dan waktu masih tersisa sekitar 1 menit, Adhan Dambea ikut menanggapi.

“Karena tadi sempat disentil masalah yang menghuni hotel prodeo, maka perlu saya jelaskan itu akibat kesalahan mereka sendiri. Dan salah satu penghuninya adalah Totok Bachtiar…,” ujar Adhan Dambea.

Totok Bachtiar yang duduk di bagian depan mengajukan protes dan bergerak maju mendekati panggung debat. Ia keberatan namanya dibawa-bawa dalam debat, karena di awal debat moderator sudah beberapa mengingatkan untuk tidak menyebutkan nama.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Pages: 1 2


Komentar