Selasa, 24 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Di Jakarta Digusur, di Gorontalo Dikira Gola

Oleh Fandy Badaru , dalam Features Headline Metropolis , pada Sabtu, 1 April 2017 | 02:27 Tag: , ,
  

Alfakir (30) pria asal Banten, adalah salah satu dari sekian banyak korban penggusuran. Berkisah tentang peristiwa yang dialaminya di Kota Tua, Penjaringan, Jakarta Utara. Tentang rumah susun, biaya sewa, dan lapangan pekerjaan yang tak tentu. Akhirnya memaksa pria dua anak ini mengadu nasib di Kota Gorontalo.

Oleh : Fandy Badaru

Ujian hidup tak berhenti di Jakarta, sebab sebagai pedagang keliling barang-barang elektronik rumah tangga –yang telah digelutinya 5 bulan terakhir ini– kena imbas isu gola yang marak di Gorontalo dan daerah lainnya di Indonesia. Memaksa ia dan rekan-rekan seprofesi memutar otak, dengan cara membuka lapak seadanya.

Bertempat di depan Graha Pena Gorontalo, ia membuka lapak, selepas maghrib hingga pukul 12 malam, sebab siang jarang lagi ia jualan berkeliling. “Susah mas, baru mendekat saja, mereka pada marah-marah, malahan anak-anaknya disuruh masuk.” kata Alfakir. “Padahal kita kan mau nawarin baik-baik, eh anak-anak disuruh masuk” sambungnya sambil tertawa.

Isu gola, tak pelak membuat rekan-rekan seprofesinya di daerah lain pun kebingungan. “Di Sumbawa (Nusa Tenggara Barat-red), sudah 4 hari malah, teman-teman gak jualan” tuturnya lagi. Maraknya isu penculikan anak yang tak jarang berujung pada tindakan main hakim sendiri, membuat pedagang-pedagang ini memilih jalan aman dengan cara membuka lapak.

Tak ada sedikitpun penyesalan nampak dari seorang Arif, bukan karena sudah berkeluarga, bukan karena usia tua atau muda, ia tetap akan tekun mencari nafkah. “Jika masih bujang mas, mungkin saya akan pergi jualan, lebih jauh lagi” tekadnya. Isu gola, agaknya membuat ia sedikit cemas, tapi tak patah semangat.

“Tapi mas, alhamdulillah di Gorontalo, masih aman, gak ada main hakim segala, gak apa-apa begini” tutupnya mengakhiri pembicaraan.

(Visited 3 times, 1 visits today)

Komentar