Diduga Dihajar Oknum Polisi, ABG Muntah Darah

×

Diduga Dihajar Oknum Polisi, ABG Muntah Darah

Share this article
DADANG Botutihe saat terbaring lemas di RSUD Aloei Saboe, Kota Gorontalo.

GORONTALO Hargo.co.id – Malang benar nasib yang menimpa Dadang Botutihe (14) yang harus terbaring lemas di Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS) diduga setelah diperlakukan tidak wajar oleh anggota polisi karena dituduh mencuri genset di tempatnya bekerja.

Informasi yang dirangkum Gorontalo Post, kejadian berawal dari Dadang yang sebelumnya bekerja sebagai clening service di tempat hiburan malam ini ingin berhenti bekerja dengan alasan untuk mencari pekerjaan lain di wilayah Sangir, Sulawesi Utara. Pada Kamis, (21/4), Dadang pun berpamitan dengan pimpinannya di tempat kerjanya dan sekaligus ingin mengemas barang-barangnya.

Keesokan harinya, Jumat (22/4), terdengar bahwa genset di tempatnya bekerja hilang. Dadang yang tercatat berdomisili di Kelurahan Tenda, Kota Selatan di telepon oleh pimpinannya. Dadang pun memberanikan diri datang lagi ke kantor untuk mengklarifikasi hal tersebut.

Namun sang bos tidak percaya dan menelpon anggota Polsek Kota Selatan untuk menjemput Dadang. Atas tuduhan tersebutlah, Dadang Langsung di jemput oleh Polsek Kota Selatan.

Saat berada di Polsek, Dadang mengaku bahwa dia diperlakukan tidak wajar oleh anggota polisi dan dipaksa untuk mengakui perbuatan tersebut. “Saya dia suruh mangaku, kendati bukan saya yang ba ambil genset itu. Saya ditendang di bagian dada, di pukul di wajah dan belakang, saat itu yang memukul ada sekitar 6 orang secara bergantian, bayangkan saya dipukul dari jam 11.00 siang sampai jam 4 sore.

Saat itu, saya tidak sadarkan diri, saya merasakan sakit bagian dada dan perut juga sempat saat saya berada di rumah itu saya muntah darah,” kata Dadang.

Sementara dari pihak keluarga, Hadija Botutihe, membenarkan pengakuan Dadang tersebut. “Saya juga sempat untuk meminta kebijakan kepada pihak polsek, saya mengatakan bawa bukan dia yang melakukan pencurian itu, tapi dari polsek malah memaksa dia untuk mengakuinya,” ujar Hadija.

Dadang pun akhirnya diserahkan kepada pihak keluarga setelah dijemput oleh Halim Botutihe, kakaknya. Setelah sampai di rumah, Dadang mengalami pusing, mual dan hidungnya mengeluarkan darah. Pihak keluarga kemudian langsung membawanya ke RSUD.

Sementara itu, dikonfirmasi ke Polsek Kota Selatan melalui Kanit Reskrim, Ipda Mahyudin Popoi membantahnya dan menyatakan masalah ini sudah selesai. “Yang kami tangkap sudah diserahkan ke pihak keluarga. Untuk pemukulan kami tidak pernah melakukan itu,” kata Mahyudin.

Terpisah, Kapolsek Kota Selatan, Iptu Komang Sapta, ketika dikonfirmasi juga menegaskan hal yang sama. Selain itu Komang mengatakan, saat Dadang diinterogasi keterangannya selalu berubah-ubah dan jawaban yang dilontarkannya tidak nyambung.

“Saat ini korban memang berada di rumah sakit, kami tidak tau apa penyebabnya. Katanya setelah dari polsek dia sudah masuk rumah sakit. Nah, dari kami pihak polsek sudah membantu mengarahkan untuk pengobatanya,” ujar Komang.

Ditambahkannya, status Dadang sendiri masih sebatas indikasi karena dia adalah pemegang kunci setelah di tempat hiburan malam tersebut, “Semua tergantung pemilik kafe itu, kalau dia mau lanjut, maka kami akan lanjutkan penyelidikanya, kalau tidak maka kami akan lakukan mediasi,” tandasnya. (tr-53/hargo)