Eks Penasihat Keamanan Trump Ingin Selamatkan Diri

×

Eks Penasihat Keamanan Trump Ingin Selamatkan Diri

Share this article
SIAP BUKA-BUKAAN: Michael Flynn. (AP Photo/Carolyn Kaster, File)

Tak lama setelah berita itu tersiar, Flynn mengundurkan diri tak sampai sebulan setelah dilantik. Beberapa pejabat Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump-lah yang memaksanya mundur. Tetapi, setelah Flynn mundur, investigasi hubungan Trump dan tim kampanyenya dengan Kremlin tetap gencar. Karena itu, keinginan Flynn mengungkap lebih perinci informasi yang dimiliki menjadi tawaran menggiurkan bagi Senat, DPR, dan FBI.

Dari Gedung Putih, Trump menanggapi kabar tentang Flynn tersebut. Meski belum ada jawaban resmi dari Senat atau DPR dan FBI tentang permintaan imunitas mantan ajudannya tersebut, presiden ke-45 AS itu menyatakan bahwa langkah tersebut sudah benar. Menurut Trump, Flynn butuh jaminan kenetralan dalam investigasi yang diyakini berat sebelah tersebut.

”Mike Flynn memang sebaiknya minta imunitas dalam perburuan penyihir (alasan yang diciptakan setelah kalah besar dalam pilpres) oleh media dan Partai Demokrat dalam porsi yang tercatat sejarah,” cuit Trump lewat akun @realDonaldTrump kemarin. Begitu terpublikasi di media, tweet sang presiden itu langsung menuai banyak tanggapan.

Senator Angur King yang merupakan salah seorang anggota Komite Intelijen Senat menuturkan, permintaan Flynn berlebihan. Menurut dia, dalam tahap investigasi seperti saat ini, Flynn tidak perlu minta imunitas. Tentang istilah perburuan penyihir yang selalu digunakan Trump untuk menyerang Demokrat, King juga menganggap pemilik Trump Tower tersebut tendensius.

”Itu bukan perburuan penyihir. Itu adalah proses untuk mengungkap kebenaran dari banyak pertanyaan penting yang bermunculan di kalangan masyarakat,” papar King dalam wawancara dengan CNN. Bahwa Rusia berada di balik segala kekacauan pilpres, politikus independen tersebut tidak lagi ragu. Karena itu, terus-menerus membantah fakta yang mulai banyak terungkap adalah hal yang sia-sia.

Sementara itu, Trump yang kian tersudut mulai bersih-bersih pemerintahannya. Kamis lalu, dia mendeklarasikan perang dengan politisi Partai Republik yang terus-menerus menjadi sandungan bagi pemerintahannya. Ancaman itu dipaparkan setelah voting Trumpcare dibatalkan Ketua DPR Paul Ryan karena tidak yakin bisa lolos. Ryan dan kelompok konservatif berjuluk Freedom Caucus pun menjadi sasaran utama.

”Freedom Caucus akan membuat seluruh agenda politik Republik berantakan jika tidak segera bersatu dalam tim. Kita harus melawan mereka dan Demokrat pada 2018,” tandas Trump lewat akun Twitter-nya. Dia lantas menyebut tiga anggota Freedom Caucus yang dianggap paling vokal. Yakni, Mark Meadows, Jim Jordan, dan Raul Labrador. Dia mengimbau mereka segera kompak dengan politisi Republik yang lain. (AFP/Reuters/BBC/CNN/hep/c16/any)