Eks Penasihat Keamanan Trump Ingin Selamatkan Diri

×

Eks Penasihat Keamanan Trump Ingin Selamatkan Diri

Share this article
SIAP BUKA-BUKAAN: Michael Flynn. (AP Photo/Carolyn Kaster, File)

Hargo.co.id – Setelah Jared Kushner, giliran Michael Flynn yang akan bersaksi tentang kedekatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Rusia. Jika Komite Intelijen Senat, Komite Intelijen House of Representatives (DPR), dan FBI menyanggupi syarat yang diajukan mantan penasihat keamanan nasional itu, informasi penting akan mengalir.

Kamis malam waktu setempat (30/3), Robert Kelner, pengacara Flynn, menyatakan bahwa kliennya punya informasi tentang tim kampanye Trump dan Rusia. Namun, informasi itu tidak akan dibagikan cuma-cuma. Sebagai imbalan, mantan ajudan Trump yang berpangkat jenderal itu minta imunitas. Tanpa imunitas, dia tidak akan memberitahukan informasi yang disebutnya penting bagi investigasi tersebut.

”Ada sesuatu yang ingin disampaikan Jenderal Flynn. Dia sangat ingin segera menyampaikannya. Tapi, ada syarat yang harus dipenuhi lebih dulu,” tulis Kelner di akun Twitter-nya. Pernyataan yang sama dituliskan dalam surat pernyataan resminya kepada media. Surat bertanggal 30 Maret 2017 tersebut kali pertama dipublikasikan Wall Street Journal Kamis malam lalu.

Bersamaan dengan beredarnya kabar tentang permohonan imunitas Flynn itu, tersiar juga berita bahwa tokoh 59 tahun tersebut sudah bertemu dengan perwakilan Senat dan DPR AS. Konon, mereka membahas tentang peluang dikabulkannya permintaan Flynn soal imunitas. Sejak mengundurkan diri dari jabatannya sebagai penasihat kepresidenan pada 13 Februari lalu, Flynn otomatis kehilangan imunitasnya.

”Dengan mengajukan syarat imunitas, ada indikasi bahwa dia (Flynn, Red) merasa terancam secara hukum,” kata salah seorang pejabat pemerintah yang merahasiakan identitasnya. Kemarin (31/3) BBC kembali menuliskan pernyataan Flynn pada September lalu tentang imunitas dan pelanggaran hukum. Ketika itu, dia menyebutkan bahwa siapapun yang minta imunitas diduga telah melanggar hukum.

Flynn terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya sebagai penasihat kepresidenan setelah keceplosan mengakui kesalahan yang dilakukan pada masa transisi. Dia bertemu Duta Besar Rusia untuk AS Sergei Kislyak sebelum resmi dilantik sebagai bagian dari pemerintahan Trump. Saat itu, dia menyampaikan bahwa pemerintah melonggarkan sanksi bagi Rusia dalam waktu dekat.

Janji Flynn itu sempat terendus media. Pertemuannya dengan Kislyak juga tercatat dalam jurnal intelijen. Sebenarnya dia beberapa kali membantah pertemuannya dengan sang dubes. Namun, dalam sebuah wawancara, dia tidak sengaja mengakui pertemuan mereka. Padahal, dia sudah mengatakan kepada Wakil Presiden Mike Pence bahwa dirinya tidak bertemu Kislyak. Belakangan, dia merevisi pengakuannya tersebut.