Hargo.co.id GORONTALO – Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan swasembada berkelanjutan padi dan jagung serta swasembada kedelai yang harus dicapai dalam waktu 3 tahun.
Namun, sering kali beberapa permasalahan dihadapi dalam percepatan pencapaian swasembada pangan tersebut, antara lain alih fungsi dan fragmentasi lahan pertanian, rusaknya infrastruktur/jaringan irigasi, tingginya susut hasil (losses), belum terpenuhinya kebutuhan pupuk dan benih sesuai rekomendasi spesifik lokasi.
Namun, saat ini, petani nampaknya tak perlu khawatir. Dalam mencapai hasil panen yang maksimal dengan beberapa keuntungan yang diperoleh, benih unggulan hasil rakitan Badan Litbang Pertanian bisa menjadi pilihan.
Misalnya, BIMA 20-URI (STJ109) dengan potensi hasil panen mencapai 12,8 ton/ha dan tahan terhadap penyakit bulai, penyakit karat daun dan penyakit hawar daun.
Kemudian benih BIMA 19-URI (STJ107) dengan potensi panen 12,5 ton/ha dan tahan penyakit bulai, penyakit karat daun dan penyakit hawar daun, PULUT URI-1 dengan potensi hasil panen 9,4 t/ha pipilan kering dan BISMA dengan potensi hasil dikisaran 7,0-7,5 t/ha pipilan kering. Ke empat jenis benih ini diyakini jauh lebih murah dibandingkan produk lain di pasaran dan benih tersebut bisa ditanam kembali.
Ke empat varietas unggul baru itu telah diperkenalkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Gorontalo kepada para petani di Kabupaten Gorontalo Utara dalam temu lapang dan panen raya jagung yang dilaksanakan di Desa Bulontio Timur, Kecamatan Sumalata, Senin (8/6).
Kepala BPTP Provinsi Gorontalo melalui Kasubag Tata Usaha Cilvaleriannyo SH mengatakan, sebagai unit pelaksana teknis daerah, BPTP memiliki Tupoksi untuk mendiseminasikan segala teknologi yang telah dikembangkan Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian RI.
“Kami harapkan koordinasi dari semua stakeholder bisa lebih baik lagi untuk mencapai target yang telah ditetapkan,” katanya dalam acara panen padi jagung kedelei (Pajale) tersebut.
Kepala BP4K Gorut yang diwakili Kabid Kelembagaan A.H Tampanguma mengharapkan, agar petani untuk bisa memanfaatkan varietas unggul baru ini. “Jika tidak mendapatkan bantuan benih, petani bisa menggunakan jagung varietas komposit seperti BISMA dan Pulut URI yang memiliki potensi produksi menyaingi Hibrida yakni 7 ton.
Penanggung Jawab Upsus Pajale Dr. Ir. Andi Yulyani Fadwiwati M.Si menyampaikan, selain Pajale, BPTP Gorontalo selama ini juga mendiseminasikan banyak teknologi, misalnya untuk budidaya hortikultura.
“Kita selalu terbuka untuk berbagi kepada pengguna inovasi teknologi, baik petani maupun stakeholder,” ujarnya. Sementara itu, beberapa petani yang menghadiri panen Pajale mengaku, sangat tertarik dengan varietas baru ini, terutama untuk varietas BISMA.(dan/hargo)
