“Sempat ada yang datang untuk membeli. Tetapi saya tidak mau jual. Saya niat hanya untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat,†ujar EA saat ditemui di RSAS Kota Gorontalo.
Selang dua hari kemudian, tepatnya Minggu (17/4), EA dan SL mengalami demam, pusing dan gatal-gatal. Awalnya di lengan EA dan SL terdapat bintil merah. Karena gatal, EA dan SL terus menggaruk hingga akhirnya berubah menjadi luka melepuh.
Karena masih terus mengalami demam, pusing dan gatal-gatal, kedua petani itu lantas berobat ke Puskesmas Telaga Biru, Rabu (20/4). Setelah diidentifikasi, pihak Puskesmas Telaga Biru langsung merujuk keduanya ke RSAS Kota Gorontalo pada pukul 14.00 wita.
Menurut EA, dirinya sama sekali tidak mengetahui bila kerbau yang disembelihnya terserang penyakit antraks. Bahkan pria berkulit sawo matang itu mengaku heran karena dirinya sama sekali tak mengkonsumsi daging kerbau yang disembelihnya.
“Mungkin karena kena darah kerbau itu. Sebab, masyarakat yang makan dagingnya sampai sekarang tak apa-apa,†kata EA.
