Rabu, 1 Desember 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Gorontalo Dimata Prof. Zudan Arif: Perkuat Jati Diri Gorontalo

Oleh Berita Hargo , dalam Features Gorontalo , pada Jumat, 12 Mei 2017 | 10:13 AM Tag: , ,
  

Selama 7 bulan, Zudan Arif Fakrulloh menunaikan tugasnya sebagai Penjagub Gorontalo. Meski terbilang singkat, pria yang menjabat Dirjend Dukcapil ini meninggalkan sejumlah inovasi dan prestasi di bumi Serambi Madinah.

Adriandzah Mansyur – Gorontalo

JARUM jam menunjukkan pukul 14.00 Wita, Rabu, (10/5). Tidak lama lagi pesawat yang akan ditumpangi Zudan Arif akan takeoff dari Bandara Djalaluddin Gorontalo.

Di hari terakhir masa jabatannya di Gorontalo, Zudan masih sempat menghadiri beberapa acara pemerintahan, sekaligus pamitan dengan para ASN dan berakhir di Kantor Dinas PMD dan Dukcapil. Dari Kantor yang berada di kawasan blok plan itu, Zudan pun berangkat menuju Bandara Djalaluddin.

Gorontalo Post yang tengah bersamanya, ikut diajak masuk kedalam mobil DM 1 untuk menuju Bandara Djalaluddin. Di dalam mobil, ia pun mulai bercerita panjang terkait kesannya di Gorontalo, termasuk harapannya kepada pemerintah dan masyarakat Gorontalo.

“Adat Istiadat Gorontalo itu sangat khas. Masyarakatnya sering pakai kopiah. Itu pertanda tidak sombong, karena kesombongan ditutupi kopiah,” kata Zudan mengawali pembicaraan.

Menurut Zudan, masyarakat Gorontalo harus mampu mengangkat tradisi Serambi Madinah ini agar tertanam kuat dalam jati diri setiap masyarakat. Ketika pertama datang ke Gorontalo, Zudan mengaku kaget dengan Gorontalo. Adatnya menyatu dengan tata krama.

“Kalau ada tamu yang datang langsung dipersilakan makan dan minum, malah waktu penyambutan saya dikasih uang. Saya juga kaget, saya yang tamu, saya dikasih uang. Tapi ini adalah pertanda jati diri Gorontalo ini adalah kedermawanan,” jelasnya.

Waktu pertama menghadiri acara pemerintahan, Zudan mengaku saat agenda istirahat makan, ia langsung makan banyak untuk kebutuhan sehari. Tidak disangka, dalam acara berikutnya ternyata makan lagi.

“Di hari itu, begitu suasananya. Keesokan harinya saat acara, saya ambilnya satu sendok saja, nanti takut kekenyangan, karena dalam acara berikutnya pasti di ajak makan lagi,” kata Zudan sambil tersenyum.

Menurutnya, adat istiadat dan kehidupan beragama di Gorontalo memiliki kekuatan historis yang sangat tepat untuk melandasi pemerintahan Gorontalo.

“Adat berpadu Agama ini perlu didorong agar tertanam kuat dari generasi ke generasi,” imbuhnya.

Mobil DM 1 yang hendak menuju Bandara kini sudah melalui Patung Beroda, Limboto, Zudan pun melanjutkan pembicaraan.

Zudan menitip pesan kepada pemerintah Provinsi Gorontalo agar dapat menuntaskan tiga hal yang masih menjadi pekerjaan rumah. Yakni perbaikan layanan publik, reformasi birokrasi, dan akuntabilitas kinerja lembaga pemerintah.

“Birokasi Gorontalo sudah baik, tapi kurang cepat. Ada beberapa pejabat tinggi yang perlu belajar lagi agar learning individualnya jalan baik dan tidak hanya berada di zona nyaman. Layanan itu butuh kecepatan. Manfaatkan tekonologi untuk itu,” sarannya.

Selama menjabat Penjagub, Zudan mengaku lebih banyak sukanya, meski rasa letih itu tetap ada. Sebab, selain sebagai Penjagub, ia juga bertanggungjawab sebagai Dirjend Dukcapil, Ketua Korpri, Ketua FKTI, dosen, serta membawahi beberapa organisasi nasional.

“Pernah baru akan ngurus masalah di Jakarta, tiba-tiba dapat telephon, Gorut sudah banjir. Kalau naik pesawat butuh 5 jam, jadi saya langsung gunakan sarana media untuk mengkonsolidasi penindakan bencana. Baru setelahnya balik ke Gorontalo,” ceritanya.

Zudan juga mengaku banyak kesan-kesan menarik dengan para pejabat di Gorotnalo, baik dengan Ketua DPRD Paris Jusuf dan anggota DPRD lainnya, jajaran Pemprov, termasuk dengan civitas kampus dan masyarakat.

“Jadi banyak sukanya, kalau dukanya itu kena fitnah politik. Tapi kalau diserang begitu, saya sadari saja, mereka mungkin belum kenal dan tidak paham posisi saya. Saya masih 30 tahun baru pensiun, masa saya main politik,” ungkap sambil bercanda. (***/hargo)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar