Dimasa tuanya, Hadjirah Abdullah (65) masih produktif bergelut dengan kerajinan tangan khas Gorontalo kopiah keranjang atau upiah karanji yang dia rintis sejak masih kanak-kanak. Kini, upiah karanji hampir setahun belakangan ini menjadi komoditas “wajib” bagi warga Gorontalo menyusul perintah Gubernur Rusli Habibie yang mewajibkan setiap aparatur pemerintah.
Franco Bravo Dengo – PULUBALA
Hargo.co.id – UNTUK menuju ke lokasi rumah Hadjirah Abdullah (65), bukan perkara mudah. Selain lokasinya yang berjarak empat kilometer dari jalan utama jalan trans Sulawesi Kecamatan Pulubala.
Kondisi jalan di dusun II Desa Pulubala, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo itu rusak parah, bahkan ada separuh jalan yang tidak teraspal. Tak hanya itu, listrik belum masuk ke perkampungan tersebut. Wilayah ini seperti dilupakan pemerintah.
Tapi dibalik itu, ada penduduk desa yang ternyata sangat berprestasi. Dialah Hadjirah Abdullah, hasil kerajinan tangananya menjadi langganan kepala negara.
Ma Nou begitu Hadjirah Abdullah akrab disapa. Ia sudah mulai menganyam upiah karanji sejak umur sembilan tahun. Saat itu, dia diajari orangtuanya untuk membuat peci dengan bahan rotan mintu dan akan diberikan kakeknya.
“Kakek dan orang tua saya juga hobi menganyam, makanya ini sudah turun temurun. Dulu, saya juga sering buat untuk hadiah buat kakek dan saudara-saudara kakek,” terang Ma Nou mengawali percakapanya dengan Gorontalo Post.
Praktis, Hadjirah kecil yang tumbuh dikeluarga sederhana itu menghabiskan waktu mainnya dengan kerajinan tangan khas Gorontalo yang kini populer dengan nama upiah karanji.
Waktu berlalu. Hadjirah yang sebelumnya hanya anak kecil yang hobi menutak-atik anyaman, menjadi wanita muda yang sering dipilih menjadi perwakilan daerah untuk mengikuti kegiatan budaya. Dari situlah, nama Ma Nou mulai dikenal. Puncaknya, tahun 1996 dia dianugerahi penghargaan Upakarti di Istana Negara oleh Presiden Soeharto.
“Waktu itu, pertama kali saya naik pesawat. Bahagianya minta ampun. Saya masih ingat jelas betapa groginya saya bertemu dengan Pak Presiden Soeharto kala itu,” ujar ibu tiga anak ini.
Rupanya ketenaran Hadjirah belum habis kala itu. Empat tahun kemudian, tepatnya tahun 2000, Hadjirah mendapat kunjungan dari utusan Istana Negara. Mereka mendatangi langsung rumah Hadjirah yang ada di pedalaman Pulubala itu. Rupanya kala itu Presiden RI ke empat, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, meminta Hadjirah untuk membuat peci keranjang khas upiah karanji dan mesti langsung dari tangan Hadjirah sendiri.
Saat itu, Hadjirah mengaku keget sekaligus sangat senang dengan kedatangan tamu dari Istana Negara dan langsung menerima pesanan sang Presiden.
“Saya bilang kepada utusan itu, pecinya bisa diambil tiga hari lagi,” sambung isteri Edi Ibrahim (75) ini.
Tepat sesuai janjinya, kopiah keranjang favorit Gus Dur akhirnya selesai. Bahkan sejak peristiwa itu, kata Hadjirah, istilah kopiah Gus Dur sangat populer tidak hanya seantero Pulubala dan Gorontalo, tapi juga di kalangan Istana Negara.
Kini, di rumah sederhana miliknya, terpajang sederet penghargaan. Mulai dari Presiden RI ke dua Soeharto, tokoh Nasional Surya Paloh, Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo hingga dari Bank Indonesia. Bahkan, ibu Negara Iriana Joko Widodo ketika berkunjung ke Gorontalo juga memesan upiah karanji sebagai ole-ole untuk sang presiden.
Hadjirah mengakui bahwa buah ketekunannya ini sudah menghidupi keluarganya. Dia berkolaborasi dengan suaminya yang hanya berprofesi sebagai petani biasa. Bahan baku pembuatan peci ini diakui cukup sulit karena lokasinya berada di dalam hutan.
“Jadi, setelah suami saya bertani, dia juga membantu saya mengambilkan bahan baku pembuatan peci ini, yakni dari tanaman Mintu yang hidup di hutan,” katanya.
Selama mengeluguti dunia anyaman itu, Hadjirah mengaku sudah banyak makan garam. Dari yang dulunya upiah karanji yang hanya dihargai Rp 2.500,- hingga sekarang harganya sampai Rp 350 Ribu per buah.
“Gubernur rutin memesan upiah karanji buatan saya. Dia membelinya dengan harga mahal,” canda Ma Nou.
Meski sudah lanjut usia, Hadjirah mempunyai impian besar untuk memberdayakan tetangga dan masyarakat di sekitarnya. Saat ini, dia mengharapkan bantuan permodalan untuk pengembangan kerajinan dan untuk pemberdayaan warga sekitar.
“Saya sedang memberdayakan kerajinan ini kepada warga sekitar, agar kerajinan ini tidak punah,” ujarnya. (*)
