Jumat, 12 Agustus 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Hingga Maret 2022, 64 Orang Idap HIV/AIDS di Gorontalo Utara

Oleh Admin Hargo , dalam Headline Kab. Gorontalo Utara , pada Jumat, 22 Juli 2022 | 10:05 Tag: ,
  Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Ada hal mengejutkan terjadi di Gorontalo Utara (Gorut). Yakni, sebanyak 64 orang tengah mengidap HIV/AIDS yang terhitung hingga Maret 2022, yang mana data tersebut dihitung mulai 20110.

Ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan, Gorontalo Utara, Rizal Yusuf Kune ketika ditemui media ini di ruang kerjanya. Menurutnya, angka HIV/AIDS cukup tinggi dan parahnya lagi data yang tervalidasi tersebut, paling banyak usia produktif.

“Kalau di Gorontalo Utara  itu, masih lebih tinggi LSL (lelaki seks lelaki) atau guy dan IRT (Ibu Rumah Tangga). Kemungkinan ini terjadi karena bapak-bapaknya biasa ‘jajan-jajan’ sembarangan lalu bawa ‘oleh-oleh’ ke rumah,” kata Rizal Yusuf Kune.

Hal tersebut, menurut Rizal Yusuf Kune, biasanya terjadi karena perilaku 5 atau 10 tahun sebelumnya. Menurut, HIV/AIDS tidak langsung dapat diketahui, karena masa inkubasi itu atau tanpa ada gejala itu bisa sampai dengan 5 tahun dari pertama kali kontak dengan yang HIV.

“Kalau dulu belum maraknya yang muncul bisa sampai dengan 10 tahun yang sekarang sudah banyak kasus yang muncul. Tapi pada 3 tahun pertama itu sudah muncul gejala,” tegasnya.

Untuk gejalanya, kata Rizal Yusuf Kune, seperti yang mempunyai diare, tapi kalau yang punya HIV itu diarenya bisa sampai berbulan-bulan dan hanya dengan minum obat diare akan berhenti setelah itu kambuh lagi. 

“Karena kalau yang tidak mempunyai HIV itu hanya musiman. Kemudian juga sariawan yang tidak akan sembuh-sembuh,” jelasnya.

Untuk tindakan pencegahan, perlu untuk dilakukan. Bahkan dari golongan umur itu, ada yang masih bayi terpapar HIV. Itu menular dari darah atau cairan kelamin. 

“Makannya hubungan seks itu masih paling tinggi untuk mengeluarkan kasus HIV, itu karena hubungan seks, darah dan ASI. Paling banyak itu seks dan paling tinggi ASI. Kalau darah itu dari jarum suntik, yang melakukan tato, dan yang menindik, biasanya kan yang sekarang-sekarang itu ada yang suka tatoan, melakukan tindik,” paparnya.

Lanjut dikatakan bahwa mereka bisa satu jarum untuk berapa orang, kemudian yang terkena HIV itu masih dalam masa inkubasi bisa jadi kondisinya masih sehat dan fit. Tapi kalau merasa tidak pernah melakukan ketiga hal tersebut atau 2 yang melakukan tindik dan seks bebas tidak perlu khawatir. 

“Kalau sekarang itu di Gorontalo sudah mulai ada pemeriksaan di tingkat Puskesmas untuk ibu hamil, dari situ juga ada sebagian dari komunitas kalau ada lebih RDT atau Rapid Diagnostic Test. Kita mengadakan di komunitas atau di pemerintahan juga,” kata Rizal Yusuf Kune.

Kegiatan-kegiatan skrining atau pengecekan itu, sudah banyak menemukan kasus. Sayangnya hingga dengan saat ini belum ada yang bisa memastikan dia benar-benar sembuh dari HIV atau tidak. Obatnya ada tapi hanya untuk terapi agar menjaga tubuh tetap sehat. 

“Karena kalau dia tidak diterapi, akan muncul berupa gejala diare dan kemudian tidak ditangani, itu paling lama sebulan akan dirawat di rumah sakit. Karena kasus-kasus sebelumnya juga begitu, ada beberapa kematian seminggu di rumah sakit itu sudah paling lama kalau sudah ada gejalanya,” jelasnya.

Rizal Yusuf Kune mengungkapkan bahwa penyakit ini, menyerang sistem imun tubuh. Jika tidak ditangani atau diterapi maka imun akan semakin turun dan akan mulai masuk penyakit lainnya seperti TBC, karena itu penyakit yang paling rentan terkena jika sudah TBC. Jadi dari 2011 yang sudah terkonfirmasi HIV pasti kita akan coba tes untuk TBC dan itu dari 10 orang yang diperiksa, bisa jadi 6 diantaranya bisa jadi terkena juga TBC, dan parahnya ini bisa juga menjadi kanker.

Yang paling banyak laki-laki sebanyak 46 orang dan perempuan 18 orang. Untuk rentang umur yang paling banyak usia 25-49 tahun dan penyebaran paling tinggi IRT sebanyak 5 orang, kemudian mahasiswa 2 orang dan swasta 2 orang sisanya dari berbagai pekerjaan dan profesi lainnya. (***)

 

Penulis: Alosius M. Budiman

(Visited 107 times, 1 visits today)

Komentar