Namun, karena makin banyak orang yang datang, beli kulit udang jadi bisnis menggiurkan. Akibatnya, harganya pun bisa jadi naik.
Harga Rp 10 Ribu yang sebelumnya satu tas cicak, belakangan jadi kurang. Minimal, harus beli kulit udang minimal seharga Rp 25 Ribu supaya dapat satu tas cicak sehingga bisa lebih lama berinteraksi dengan ikan yang memiliki nama ilmiah Rhincodon Typus ini.
Kalau begitu terus, jumlah makanan hiu paus ‘kan jadi berkurang ? Itu yang pertama. Yang kedua, ketika hilangnya hiu paus, hampir tidak ada kepanikan dari pemerintah.
Keramahan whale shark yang sudah melejitkan nama Provinsi Gorontalo dari segi pariwisata rupanya tidak berbekas. Hampir tidak ada upaya, contohnya, minimal, memborong dan menghamburkan semua kulit udang di pantai supaya hiu pausnya balik lagi.
Bahkan, informasinya, entah benar atau tidak, anggaran pemerintah yang di plot untuk hiu paus bakal dipending dengan alasan hiu pausnya tidak ada. Kasihan sekali.
Kalau memang serius, minimal, kepergian hiu paus bisa menjadi pembelajaran bagi kita di daerah supaya bisa berbenah. Pariwisata Gorontalo bukan cuma hiu paus.
Tapi, bagaimana keseriusan semua pihak untuk menggenjot pariwisata Gorontalo yang katanya sedang bergairah dan sumber alternatif ekonomi baru ini.
Hiu paus bisa menjadi ikon wisata plus. Jadi, Gorontalo bisa jadi daerah pariwisata dan hiu paus adalah plusnya. Tidak ada hiu paus, Gorontalo ‘kan tetap ada pariwisatanya ? Minimal, mereka yang sudah jauh-jauh datang ke Gorontalo tidak kecewa dengan perginya hiu paus.(*)
