Akibat pengroyokan ini, Fahri mengalami luka tikam di bagian bokong sebelah kanan. Selain itu, Fahri juga mengalami luka dalam di sekujur tubuhnya. Pengroyokan ini sendiri berlangsung sangat cepat sehingga identitas para pelaku tak diketahui.
Namun menurut Fahri, pelaku yang mengeroyok dirinya bukan mahasiswa IAIN, tapi mahasiswa dari kampus lain yang kesemuanya diduga juga berasal dari satu daerah yakni, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.
“Tiba-tiba saya diserang oleh 20 orang lebih dan mereka setau saya bukan mahasiswa IAIN tapi dari kampus lain di Gorontalo,” ujar Fahri yang ditemui tengah terbaring lemas di ruang Unit GAwat Darurat RS Multazam Kota Gorontalo.
Sejauh ini,kasus penikaman tersebut masih ditangani oleh Kepolisian Resort Gorontalo Kota.
“Pihak institut menyerahkan sepenuhnya kepada pihak berwajib untuk melakukan proses hukum terhadap pelaku kekerasan terhadap mahasiswa kami,” kata Subhan Posangi Wakil Rektor III kepada Gorontalo Post.
Dr Said mengungkapkan, persoalan ini berawal dari gesekan antar kepanitiaan Ospek yang kemudian berujung pada cekcok antar mahasiswa.
“Kampus bertanggung jawab atas kasus ini, karena terjadi saat kegiatan akademik,” tegasnya.
Selain itu, IAIN Gorontalo juga tengah melakukan penyelidikan internal untuk mencari tau siapa pelaku penikaman terhadap Fahri.
Namun, diduga ada provokator dari luar IAIN yang mengakibatkan penganiayaan ini terjadi.
