“Almarhum (Simon,red) adalah sosok yang ceria dan bertanggung jawab di keluarga. Dia selalu ringan tangan saat diminta membantu, terutama pekerjaan fisik,” kara Idris. Hanya saja Idris mengakui sempat merasa heran dengan perubahan perilaku Simon kurang lebih sepekan sebelum hidupnya berakhir diujung bilah pisau.
“Dalam satu minggu memang Almarhum mulai jadi pendiam, tidak biasanya. Padahal Almarhum itu dikenal suka rame, kalau ada dia, pasti suasana langsung rame, mungkin ini pertanda dirinya akan panggil sang maha kuasa,” ujar Idris.
Simon Makale, yang kesehariannya sebagai abang bentor itu ternyata juga dikenal sebagai orang yang cukup aktif.
[baca:Â Begini Kronologi Pembunuhan Leato]
“Di kompleks (Kelurahan Leato Selatan,red) Almarhum sering melibatkan diri setiap ada kegiatan, apa yang boleh dikerjakannya diselesaikan sampai tuntas, makanya banyak yang senang dengan dia,” lanjut Idris.
Disamping perilaku dan kesehariannya tersebut, ternyata Almarhum Simon Makale juga dikenal memang sering beraktifitas di malam hari, nongkrong bersama dengan teman-temanya.
Hal ini membuat beberapa teman Simon Makale ikut merasa kehilangan. Hal itu diakui Rahmat, seorang teman dekat Simon. Menurut Rahmat, dalam pergaulan dengan teman-temannya, Simon tidak hanya bertanggung jawab, namun dikenal suka membela teman saat ada temannya yang tersandung masalah.
“Dia sangat baik hati, kami kehilangan sosoknya,” kata Rahmat.
Menurut Rahmat, tewasnya Simon membuat warga setempat merasa khawatir. Pasca kejadian berdarah tersebut, warga Keluarahan Leato Selatan, terutama yang tinggal di kompleks TKP tewasnya Simon Makale merasa enggan untuk keluar rumah. (tr-49/hargo)
