Selain perluasan layanan, kelancaran distribusi juga butuh perhatian serius Pemkot Gorontalo. Pasalnya, pada pagi hingga sore hari distribusi air bersih kadang tak lancar. Hal itu dikarenakan tingginya pemakaian air oleh masyarakat maupun perkantoran pada siang hari.
Informasi yang diperoleh, Kota Gorontalo memiliki satu pompa air peninggalan belanda, yang berkekuatan 350 liter per detik. Padahal, sebagai ibukota provinsi kota harusnya memiliki pompa air yang besar berkekuatan 700 liter per detik.
Di lain sisi yang tak kalah pentingnya adalah pelestarian lingkungan. Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan Pemkot Gorontalo saat ini, baik langsung maupun tak langsung telah berimbas pada kelestarian lingkungan.
Hal itu menyusul pembabatan ratusan pohon yang berusia belasan, bahkan puluhan tahun.
Dari sisi kesehatan, Kota Gorontalo juga butuh perhatian, khususnya dari ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang masih mengancam masyarakat. Sebab, pada Januari-Februari lalu, Kota Gorontalo sempat terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD.
Penyakit yang ditularkan nyamuk aedes agepty itu telah merenggut empat nyawa.
Terkait beragam persoalan itu, Walikota Marten Taha menegaskan, pemerintah memang telah melakukan berbagai upaya dalam memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat, namun tetap saja masih banyak yang perlu dilakukan.
“Dalam perjalanan sejarah Kota Gorontalo mengalami berbagai perubahan di setiap tahunnya. Dalam pelaksanaan pemerintahan kita berupaya secara maksimal memenuhi kebutuhan masyarakat, meski di sisi lain kita sadar masih banyak yang harus kita lakukan,” kata Walikota Gorontalo Marten Taha. (nat/hargo)
