Rahmat Duhe sendiri lahir pada 14 Desember 1999 di Desa Dulupi Kecamatan Dulupi Kabupaten Boalemo. Tetapi, saat memasuki usia SD, Rahmat bersama orang tuanya pindah ke Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah. Di daerah ini Rahmat mengikuti pendidikan sekolah dasar. Menginjak kelas 3 SD, bakat Rahmat Duhe mulai terlihat.
“Sejak usia 9 tahun ketika itu dia kelas 3 SD, sudah ikut bergabung dengan team marching Band di SMA Negeri I Kolonodale. Bahkan dia sempat menjadi peserta termuda saat itu,” kata Muhammad Duhe.
Rahmat Duhe selanjutnya beralih menjadi instruktur marching Band di SMA Kolonodale dan melatih siswa SMA setempat. Setelah lulus SD, tahun 2012, Rahmat Duhe dan orang tuanya kembali pindah ke Kecamatan Dulupi.
Rahmat Duhe sendiri kemudian sekolah SMP Negeri Dulupi. Selama di SMP, dua kali, yakni tahun 2013 dan 2014, Rahmat Duhe menjadi pasukan pengibar bendera pada peringatan HUT Proklamasi tingkat Kecamatan Dulupi.
“Saat itulah Rahmat selalu mengutarakan keinginannya menjadi paskibraka nasional,” ungkap Muhammad Duhe.
Tahun 2015, saat Rahmat Duhe menginjak kelas I SMA Negeri Dulupi, Rahmat sempat diseleksi untuk masuk ke Paskibraka Kabupaten Boalemo. Tetapi oleh orang tuanya sempat ditolak, karena ingin memperkenalkan Rahmat dengan dunia kepramukaan.
Barulah pada 2016 sekitar bulan April, Purna Paskibra Indonesia (PPI) Boalemo kembali menyeleksi Rahmat Duhe. Namun kali ini untuk diikut sertakan pada seleksi Paskibra tingkat Provinsi Gorontalo.
“Di tingkat provinsi, ternyata dia masuk 8 peserta seleksi yang akan diseleksi ke tingkat nasional. Dan Alhamdulillah dia masuk 4 besar yang dikirim ke tingkat nasional dan bertahan dalam dua besar utusan provinsi Gorontalo,” Papar Muhammad.
Saat memberitahukan keberhasilannya itu, kata Muhammad, Rahmat Duhe hanya diberi waktu 3 menit untuk menelfon orang tuanya. “Itupun suaranya terbata-bata, dia hanya bilang, papa mama saya berhasil jadi paskibraka nasional, dan dia berbicara sambil menangis,” kenang Muhammad Duhe.
Selama proses karantina, dalam pelatihan Paskibrakan nasional, Rahmat Duhe sendiri tidak pernah menghubungi orang tuanya. “Kami hanya bisa mengucap syukur dengan prestasi ini,” sambung Muhammad.
