Hargo.co.id - Keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang, untuk bisa meraih prestasi seperti orang-orang normal pada umumnya. Hal ini ditunjukkan, Nur Harisa, siswi penyandang difabel, yang mewakili sekolahnya mengikuti Olimpiade MIPA tingkat Provinsi di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Senyum ramah gadis 16 tahun ini mengembang, saat memperkenalkan diri kepada awak media. Tanpa rasa malu dan minder, Nur Harisa bersama keluarganya datang berkunjung ke Graha Pena Radar Sulteng (Grup INDOPOS). Dia memang khusus datang, untuk meminta dukungan moril, ikut serta bertarung dalam Olimpiade MIPA yang digelar di Kota Palu.
Nur Harisa merupakan satu-satunya peserta yang memiliki keterbatasan fisik, di mana dirinya tidak memiliki kedua tangan, namun berhasil lolos seleksi mengikuti kegiatan yang digagas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulteng. Gadis bertinggi kurang lebih 150 centimeter ini, memang membuat bangga, tidak hanya keluarga, namun juga sekolah serta daerah yang diwakilinya.
â€Alhamdulilah lolos di provinsi, mewakili Kabupaten Morowali bersama delapan teman lainnya, kalau saya ikut Olimpiade Matematika,†ungkap siswi SMA 1 Bumi Raya, Kabupaten Morowali ini.
Nur Hariza duduk di bangku kelas X (sepuluh) IPA. Dia pun, bersekolah di sekolah pada umumnya, bukan di Sekolah Luar Biasa (SLB). Tidak ada kendala bagi dirinya menyesuaikan dengan rekan-rekannya, yang memiliki fisik normal. Lingkungan sekolah yang mendukung, baik guru dan teman-temannya, membuat dirinya tetap semangat menimba ilmu hingga bisa berprestasi di dalam pelajaran MIPA.
Jelang olimpiade yang akan diadakan di Kota Palu cara belajarnya juga seperti biasa, karena pemberitahuan kepada pihak sekolah juga mendadak hanya sebelum keberangkatan diberikan bimbingan khusus beberapa hari dari sekolah. â€Saya tidak berharap untuk menang, hanya ingin memberikan yang terbaik. Intinya saya sudah berusaha, meja dan kursi untuk bertanding nanti juga saya bawa sendiri, agar enak saat ujian,†sebutnya.
Anak pertama pasangan Mutrafin dan Dewi Sartika dari empat bersaudara ini, sejak masih sekolah dasar selalu juara umum. Pernah saat kelas empat SD juara satu olimpiade tingkat SLB se-Sulteng dan masuk di tingkat nasional yang diadakan di Bali. Sayang karena tidak ada biaya, dia mengurungkan keberangkatannya.
Kali ini, Nur Harisa ingin menorehkan kembali prestasi tersebut, dengan kategori umum, mewakili Morowali, walaupun tidak berharap memang. Dewi Sartika, ibu Nur Harisa mengaku tidak pernah memaksakan anaknya untuk belajar, hanya dibiarkan saja, sang anak lah yang memiliki tanggung jawab sendiri untuk belajar. Karena semua anaknya memiliki prestasi yang sama dengan Nur Hariza. â€Nur Hariza ini dari SD juara umum terus, sampai sekarang, yang buat bangga tidak memiliki tangan, tapi semangatnya belajar luar biasa, jago mengoperasikan komputer juga,†ucapnya.
Karena pintarnya mengoperasikan komputer saat ada tugas teman-teman sekolahnya meminta bantuan anak pertama tersebut mengerjakan tugas. Dewi menambahkan, anak pertamanya itu melakukan semuanya sendiri, dengan menggunakan kakinya, mulai mencuci, makan, dan aktivitas lainnya, yang sudah dibiasakan sejak kecil. Sang ibu berharap, jika anaknya menang dan dapat juara masuk nasional, pemerintah bisa memperhatikan anaknya, dalam hal biaya mengikuti lomba nasional, karena itu untuk mengharumkan Sulteng juga. (*/hg)
