Senin, 18 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ketika Pedagang di Pasar Limboto Berjuang di Tengah Himpitan Material Proyek

Oleh Admin Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Sabtu, 18 September 2021 | 08:05 AM Tag:
  Sejumlah Pedagang di Pasar Limboto berjualan di tengah himpitan material proyek. (Foto: Sucipto Mokodompis/HARGO)

Hargo.co.id, GORONTALO – Material proyek pekerjaan penataan Pasar Limboto, Kabupaten Gorontalo dikeluhkan sejumlah pedagang. Menurut mereka, tumpukan material tersebut menghambat mobilitas pembeli dan mengganggu tempat lapak penjual. 

Pantauan Hargo.co.id di lapangan, warga tetap melakukan transaksi jual beli di tengah himpitan tumpukan material yang terdiri dari batu dan pasir. Beberapa pedagang bahkan terpaksa meletakkan jualannya di atas tumpukan material tersebut. 

Iwan, seorang pedagang yang sehari hari berjualan Gula Aren dan Sandal di Pasar Limboto menuturkan, mereka memang telah diarahkan ke lokasi lain di pasar tersebut. Namun di tempat yang baru sepi pengunjung.

Pedagang meletakkan jualannya di atas tumpukan batu material proyek. (Foto: Sucipto Mokodompis/HARGO)
Pedagang meletakkan jualannya di atas tumpukan batu material proyek. (Foto: Sucipto Mokodompis/HARGO)

Dirinya mengaku terpaksa pindah kembali ke tempat tersebut meskipun terdapat batu dan pasir material pembangunan pasar. Di lokasi kemarin, dirinya mengaku mengalami penurunan omset. 

“Terpaksa saya harus pindah kembali untuk mengembalikan lagi ekonomi saya yang berkurang beberapa Minggu lalu. Karena Ditempat yang lama itu, kami yang biasanya mendapatkan penghasilan sampai ratusan ribu, jadi hanya tinggal puluhan ribu saja,” tutur Iwan. 

Seorang pedagang lain yang enggan menyebutkan namanya juga mengungkapkan hal yang sama. Dirinya mengaku tumpukan Material tersebut juga menghambat pendistribusian Air galon dari depot air miliknya yang ada di komplek pasar tersebut. 

“Material ini menghambat mobil pengantar galon air saya. Saya akhirnya rugi. Saya ini banyak tanggungan pak,” tuturnya sambil meminta agar wajahnya tidak difoto. 

“Rekam saja suara saya, tapi jangan foto,” tambahnya. 

Iwan menuturkan, sebagai masyarakat kecil, dirinya hanya bisa berharap pekerjaan tersebut bisa segera selesai agar mereka bisa kembali berjualan seperti biasa untuk dapat mencukupi kebutuhan hidup di tengah pandemi saat ini. 

“Kalau nanti disuruh pindah lagi, ya apa boleh buat, intinya yang kami ingin sampaikan agar pekerjaan ini segera diselesaikan,” tutur Iwan dengan nada pasrah. 

Sejumlah Pedagang di Pasar Limboto berjualan di tengah himpitan material proyek. (Foto: Sucipto Mokodompis/HARGO)
Sejumlah Pedagang di Pasar Limboto berjualan di tengah himpitan material proyek. (Foto: Sucipto Mokodompis/HARGO)

Di tempat lain, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kabupaten Gorontalo, Gusti Tomayahu mengakui hal tersebut. Pihaknya memang tidak merelokasi seluruh pedagang saat pembangunan, namun hanya menggeser tempat mereka berjualan.

“Setiap ada satu pekerjaan mereka di geser, tiba lagi satu pekerjaan mereka akan digeser intinya hanya berpindah saja. Kalau kita hentikan pekerjaan juga akan merugikan pihak kita sendiri maka dari itu kami akan terus lanjutkan,” jelasnya.

Di awal pembangunan pasar, pihaknya sudah pernah mengundang beberapa perwakilan untuk memberitahukan hal tersebut. Pihaknya telah sepenuhnya berupaya mendesain pekerjaan dan aktivitas masyarakat serta pedagang di pasar tersebut agar tak saling berbenturan.

“Kita memang dari awal sudah mengatur pedagang tersebut dan juga sudah ada beberapa tempat kosong yang mereka bisa jadikan sebagai tempat jualan,” kata Gusti Tomayahu. 

Dirinya berharap agar masyarakat dapat bersabar karena Pekerjaan pasar tersebut akan selesai pada bulan Desember nanti. Rencananya, Pasar tersebut akan diupayakan menjadi pasar andalan di Kabupaten Gorontalo yang berstandar nasional. (***) 

 

Penulis : Sucipto Mokodompis

(Visited 84 times, 1 visits today)

Komentar