GORONTALO, Hargo.co.id  – Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, suasana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pohuwato bak sarang lebah. Rupanya, para warga binaan sibuk mengejar amalan dengan menghidupkan malam untuk mengejar Lailatul Qadar, terutama pada malam-malam ganjil. Sungguh, sebuah pemandangan yang menyejukkan mata di dalam “sarang” narapidana.
Berbagai kegiatan dilaksanakan oleh warga binaan yang dipimpin langsung oleh Kepala Lapas Pohuwato, Rusdedy. Diantaranya adalah sholat sunnah qiamulail atau tahajud, dzikir dan istighfar, berdoa dan meminta ampun kepada Allah SWT, membaca Alquran, sholat sunnah tasbih hingga makan sahur dan sholat subuh berjamaah.
“Kegiatan ini dimulai sejak usai sholat tarawih hingga sholat subuh dan sudah dilaksanakan sejak 10 malam terakhir Ramadan, terutama yang paling ramai di malam-malam ganjil,” kata Rusdedy.
Pihak Lapas sengaja mendorong dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para warga binaan dan tahanan untuk melakukan ibadah khusus, terutama malam-malam ganjil pada 10 malam terakhir ini.
“Kegiatannya kami pimpin langsung agar lebih khusyuk dan ibadah-ibadah yang dilaksanakan bisa secara berjamaah. Kami berdo’a kepada Allah SWT agar dosa kami diampuni dan semoga Allah memberikan hidayah kepada seluruh warga binaan dan tahanan yang ada di Lapas Pohuwato,†jelas Rusdedy.
Tak hanya itu saja, dalam pelaksanaan kegiatan ini, lampu hingga kipas angin dipadamkan dari awal kegiatan. Hal tersebut tidak lain agar seluruh kegiatan yang dilaksanakan oleh jamaah bisa berlangsung dengan khidmat serta khusyuk.
Bahkan, pada sesi dzikir dan istighfar, banyak yang tidak tahan dan langsung menangis serta berteriak memohon ampun. Suara mereka pun menggema, mengisi setiap sudut-sudut ruang di Lapas industri tersebut.
“Subhanallah. Semoga kita semua mendapatkan ampunan dari Allah SWT dan tetap istiqomah menjaga agar hati dan diri kita tetap bersih dari perbuatan dosa,†harapnya.(kif/hg)
