Lolos Lagi setelah Rusak Pukat

×

Lolos Lagi setelah Rusak Pukat

Share this article
Jebol-Tim Jawa Pos Radar Sulteng dan Panji Petualang dibantu Polairud Polda Sulawesi Tengah dan beberapa warga dan nelayan lokal saat berusaha menjerat buaya berkalung ban di kawasan pantai Talise, Palu Sulteng (25/1/18). Panji bersama rekan-rekan komunitas reptil, Polairud dan tim Jawa Pos Radar Sulteng melakukan pengamatan sejak pagi hingga malam dan menemukan titik lokasi keberadaan buaya muara tersebut. Dite Surendra/Jawa Pos

Seekor buaya besar di sungai Palu, Sulawesi Tengah sedang menjadi pembicaraan orang. Bukan karena satwa liar ini memangsa manusia, tapi disebabkan tubuhnya yang terlilit ban sepeda motor bekas. Tidak ada yang berani untuk membantu sang buaya melepaskan ban dari tubuhnya itu.

Hargo.co.id – Jawa Pos (Gorontalo Post Grup) mengajak Panji Petualang untuk menyelamatkan buaya itu. Sudah beberapa hari ini, pencarian buaya berkalung ban di lakukan disekitar sungai Palu. Bahkan hingga ke bibir pantai Palu. Tim penyelamatan terus bekerja agar buaya liar itu bisa terbebas dari ban. Siang dan malam dengan berbagai perangkap dilakukan untuk menjebak buaya. Namun, lagi-lagi buaya tersebut berhasil lolos. Kemarin (25/1) ayam dan bebek dipasang sebagai perangkap di dekat pulau reklamasi. Tapi, buaya itu hanya mau mendekat. Tak mau menyantap jebakan.

’’Sebenarnya dia sudah lapar itu. Tapi, dia sepertinya ragu,’’ ujar Panji Petualang.

Sebagaimana diketahui, Panji Petualang tengah melakukan upaya penyelamatan buaya berkalung ban itu bersama Jawa Pos. Tak berhasil pagi hingga siang, penjebakan dilakukan malam hari. Kebetulan, buaya terlihat di dekat pasir pantai area reklamasi. Penjebakan buaya dengan pukat pada malam hari nyaris berhasil. Buaya sudah berada di dalam area pukat. Tapi, satwa liar itu berhasil mencabik-cabik jaring dan lolos.

’’Jaringnya robek sangat besar. Kemungkinan berhasil diterobos si buaya,’’ ujar Panji.

Cerita awal mula mengapa seekor buaya di Sungai Palu bisa terjerat ban motor hingga kini masih menjadi teka-teki. Ada yang menyebut buaya itu sebenarnya hendak memakan mangsa tapi terjerat ban yang mengapung. Tapi ada yang mengatakan buaya itu sengaja dijerat oleh manusia.

Dari cerita yang didapat masyarakat sekitar, keberadaan buaya berkalung ban itu memang sudah lama. Lebih dari satu tahun. Namun tidak ada yang melihat sendiri bagaimana proses buaya itu bisa terjerat ban. Seorang warga yang ditemui Jawa Pos (Gorontalo Post Grup) di sekitar Jembatan Dua Sungai Palu mengatakan, buaya itu sebenarnya hendak memakan mangsa yang mengapung di sungai. Namun ternyata yang disergap sebuah ban.

Tak jauh dari sekitar reruntuhan jembatan, yang selama ini kerap disebut sebagai rumah buaya berkalung ban, memang banyak terdapat sampah. Termasuk banyak ban bekas.

“Buaya itu mungkin menganggap ban yang mengapung seperti makanan, begitu dicaplok malah terjerat,” ujar seorang warga yang kemudian banyak diyakini sebagai sebuah kebenaran.

BKSD Sulteng sendiri menyiapkan bonus bagi penyelamat buaya tersebut. (jpg/hargo)