Sabtu, 3 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Martir Minoritas

Oleh Admin Hargo , dalam DI'SWAY , pada Jumat, 30 September 2022 | 12:05 Tag: , , , , , , , , ,
  UNJUK RASA di Capitol Hill, AS, 28 September 2022, mengecam kematian Mahza Amini setelah ditangkap aparat keamanan Iran karena tidak mengenakan jilbab. -Drew Angerer/Getty Images/AFP-

Oleh: Dahlan Iskan

INTERNET masih belum normal di Iran. Tapi kondisi umum sudah pulih. Terutama sejak Senin dua hari lalu.

Terganggunya internet itu disengaja. Agar demo tidak mudah meluas. “Kok Anda masih bisa jawab WA saya?” tanya saya pada seorang teman di Tehran. “Saya pakai VPN,” jawabnya.

Sejak awal kerusuhan pun ia masih tetap bekerja seperti biasa. Kantor tidak terganggu. “Belanja ke pasar untuk kebutuhan keluarga juga tidak ada yang terganggu,” katanya.

Awalnya keadaan di Iran memang seperti sangat gawat. Kesan saya: seperti kerusuhan 1998 di Jakarta. Apalagi informasi yang masuk ke saya sangat serius. “Rezim Iran jatuh Pak,” tulis seseorang yang selalu mengamati soal Iran. Ia mengirimkan pandangannya yang tajam itu ke WA saya.

Saya pun memonitor media di Amerika Serikat. Baik yang mainstream maupun yang nyinyir. Kok kondisi gawat itu tidak tecermin di media di Amerika. Demikian juga media di Inggris.

“Memang internet jauh lebih riuh daripada yang saya alami di sini,” ujar seorang Indonesia yang ada di sana.

Kelihatannya tiga hal yang membuat kerusuhan itu mampu dikendalikan pemerintah. Sikap Presiden Ebrahim Raisi sangat responsif, para Imam turun tangan langsung dan internet dikendalikan.

An image grab from a video released by state-run Iran Press news agency shows Iran's President Ebrahim Raisi speaking during a televised interview in the capital Tehran on September 28, 2022. - Raisi condemned the "rioters" behind the wave of women-led protests sparked by the death of Mahsa Amini while in the custody of the Islamic republic's morality police. Raisi said the nation had felt "grief and sorrow" over her death, and that forensics and judiciary experts would soon present a final report, but also warned that "protests are different to riots". (Photo by IRAN PRESS / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT - AFP PHOTO / HO / IRAN PRESS" NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS FROM ALTERNATIVE SOURCES, AFP IS NOT RESPONSIBLE FOR ANY DIGITAL ALTERATIONS TO THE PICTURE'S EDITORIAL CONTENT, DATE AND LOCATION WHICH CANNOT BE INDEPENDENTLY VERIFIED - NO RESALE - NO ACCESS ISRAEL MEDIA/PERSIAN LANGUAGE TV STATIONS/ OUTSIDE IRAN/ STRICTLY NO ACCESS BBC PERSIAN/ VOA PERSIAN/ MANOTO-1 TV/ IRAN INTERNATIONAL/RADIO FARDA /
Presiden Iran Ebrahim Raisi menyampaikan pernyataan dalam wawancara televisi terkait pengusutan kasus kematian Mahza Amini di Tehran, Iran, 28 September 2022. -PRESS IRAN- AFP-

Sikap Presiden Raisi sangat jelas: petugas yang menyebabkan kematian harus diusut dan dihukum. Tapi kerusuhan yang menyebabkan terganggunya keamanan juga harus dihentikan.

Kerusuhan pun mereda.

Semua itu bermula dari peristiwa yang Anda sudah tahu: meninggalnya Mahsa Amini. Umur 22 tahun. Tanggal 16 September 2022.

Mahsa meninggal tidak wajar. Di Kasra Hospital. Itu salah satu rumah sakit terbesar di pusat kota Tehran. Setidaknya ada 15 rumah sakit besar di pusat ibu kota itu.

Tiga hari sebelumnya Mahsa kena razia polisi moral. Yakni petugas yang sesekali melakukan razia pelanggaran cara berpakaian. Saat terkena razia itu Mahsa tidak pakai kerudung yang sesuai peraturan di sana –yang berlandaskan Islam versi Iran.

Rasanya Mahsa lagi sial. Di Iran, sepengetahuan saya, aturan kerudung itu tidak terlalu ketat. Tidak seperti di Arab Saudi.

Memang, yang terbanyak, wanita di sana pakai penutup kepala. Tapi bukan jilbab. Kerudung mereka memang menutupi kepala tapi masih memperlihatkan sedikit rambut di bagian depan. Hanya sedikit lebih rapat dari cara Mbak Yenny Wahid berkerudung.

Wanita pakai burkah (penutup seluruh tubuh, pun wajah) hanya lebih banyak di kota Qom. Yakni kota yang dianggap suci di Iran. Di kota inilah kepemimpinan spiritual Iran berpusat.

Enam bulan lalu saya juga melihat video yang diambil orang Jakarta yang lagi tinggal di kota Shiraz. Ia lagi menunggu keluarga yang transplant hati di rumah sakit di situ. Ia ke mal di kota itu. Diam-diam ia membuat video candid. Tidak diatur-atur. Terlihat di situ banyak wanita tidak berpenutup kepala. Ada juga yang berkerudung tapi celananya jean yang ketat.

Maka sial benar Mahsa terkena razia. Padahal razia seperti itu tidak selalu ada.

Atau dia memang sengaja memprotes aturan itu.

Dan siapa tahu yang merazia hari itu juga lagi mengincar Mahsa.

Mahsa itu triple-minoritas. Dia wanita di tengah kekuasaan laki-laki di Iran. Dia suku Kurdi di tengah mayoritas suku Parsi. Dia dari kota yang terbanyak penduduk superminoritas Yahudinya: kota Saqiz.

Kota Saqiz hampir di perbatasan Iran dan Iraq. Jauh di bagian utara. Wilayah perbatasan itu, di sisi Iran dihuni oleh suku Kurdi. Di sisi Iraq juga suku Kurdi. Wilayah Kurdi ini masih nyambung ke sisi Turki yang di perbatasan. Kurdi di tiga negara itu punya misi yang sama: ingin mendirikan negara Kurdi yang terpisah dari Iran, Iraq dan Turki.

Kota Saqiz sangat indah. Bukitnya, lembahnya, sungainya, danaunya jalin menjalin di ketinggian 1.400 meter. Salah satu ancaman yang dianggap bisa mengganggu Iran dan Iraq dan Turki datang dari kawasan itu.

Tapi meninggalnya Mahsa melampaui semua identitas itu. Isu wanita, isu jilbab, dan isu demokrasi menjadi sangat universal. Globalisasi, majunya teknologi informasi dan kesulitan ekonomi akibat blokade Amerika membuat dukungan pada Mahsa sangat besar. Protes pun meluas. Ke banyak kota. Mahsa dianggap sebagai martir gerakan perempuan. Termasuk dari putri mantan Presiden Iran Hashemi Rafsanjani. Ia Ayatollah intelektual. Ia tangan kanan Ayatollah Khomeini. Rafsanjani memang tokoh yang menginginkan Iran menjadi negara moderat.

Begitu besar harapan agar gerakan itu berhasil mengubah Iran. Terutama dari kelompok pro-demokrasi. Sudah begitu banyak yang optimistis rezim Iran kali ini pasti tumbang. Gerakan ini sangat besar. Meluas.

Ternyata belum bisa berhasil. Setidaknya bisa diredam.

Kelihatannya gerakan wanita ini dipadamkan lewat dua cara: lewat para imam dan polisi/tentara. Para imam mengerahkan demo tandingan. Lebih besar. Sebanyak yang protes masih lebih banyak yang ikut apa kata imam di sana. Terjadilah bentrok. Banyak yang tewas. Dari kedua belah pihak. Ada yang menyebut sampai 76 orang. Angka resmi menyebut 45 orang.

Penangkapan pun dilakukan secara luas. Putri Rafsanjani termasuk yang ditangkap. Dari kalangan wartawan ada 20 orang yang diringkus.

Peristiwa ini jadi ujian terberat bagi Presiden Raisi. Ia baru terpilih tahun lalu. Mengalahkan incumbent Ayatollah Rouhani yang moderat. Presiden Raisi punya posisi politik yang sangat khusus. Ia ulama terkemuka. Ahli hukum Islam. Raisi disebut-sebut sebagai calon terkuat untuk menjadi pemimpin tertinggi Iran –ketika Ayatollah Khamenei mengundurkan diri atau meninggal dunia.

Polisi mengatakan Mahsa memang punya sakit jantung. Ia terjatuh ketika dirazia akibat jantungnyi bermasalah. Tapi pendukung Mahsa mengatakan dia dipukuli dan mengalami luka-luka.

Presiden Raisi menjanjikan untuk melakukan penyelidikan independen atas kematian Mahsa. Yang salah akan ditindak. Tapi Iran tidak boleh hancur.

Mahsa telah meninggal dunia. Demikian juga 45 atau 70 orang lainnya. Tuntutan demokrasi terus tumbuh –pun di negara seperti Iran. Atau Arab Saudi. Atau Tiongkok. Apalagi Indonesia.

Agama, kerajaan, komunis, dan bentuk apa pun lagi ditantang ideologi baru: kesejahteraan.

Mungkin Mahsa dianggap salah satu musuh negara. Tapi musuh sekali pun harus dijaga keselamatannya. Kadang martir datang dengan tanpa diduga. (Dahlan Iskan)

(Visited 24 times, 1 visits today)

Komentar