Hargo.co.id, Gorontalo – Pasca jatuhnya korban jiwa akibat demam berdarah dengue (DBD), pemerintah daerah segera melakukan tindakan, salah satunya dengan melakukan fogging atau pengasapan. Namun, sejauh ini pengasapan terlihat baru dilakukan di kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, tak jauh dari rumah korban. Padahal, khusus di Kecamatan Limboto yang menjadi zona merah dan memiliki sembilan kelurahan endemik DBD.
Dari pantauan Gorontalo Post, fogging yang dilakukan Puskesmas Limboto beberapa waktu lalu adalah tindak lanjut dari meninggalnya bocah Tiara Arafah (6) di Kelurahan Hunggaluwa yang dinyatakan positif mengidap penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti ini.
Meski mengalami penurunan jumlah kasus DBD di wilayah Kabupaten Gorontalo, tercatat 6 kasus yang sudah ditemukan sepanjang Januari ini, dengan rincian Kecamatan Limboto 4 Kasus, Kecamatan Tilango dan Telaga masing-masing 1 kasus. Khusus kecamatan Limboto sendiri sudah dikategorikan sebagai wilayah endemik karena selama ini hanya Kelurahan Bionga dan Malahu yang tidak menjadi wilayah rawan DBD.
Sembilan kelurahan yang menjadi endemik DBD masing-masing Kayubulan, Dutulanaa, Hepuhulawa, Hutuo, Hunggaluwa, Bolihuwangga, Tenilo, Bongohulawa dan Kelurahan Kayumerah. Di sembilan kelurahan ini hampir setiap tahun ditemukan kasus DBD. Sedangkan kelurahan Bulota, Tilihuwa dan Polohungo masih dikategorikan sporadis yang angka kasusnya sendiri tiap tahunnya berubah-ubah.
Namun demikian, warga menilai penanganan Puskesmas Limboto belum maksimal. Pasalnya, kegiatan fogging saat ini baru dilakukan di Kelurahan Hunggaluwa, itupun tidak seluruhnya. “Kami harap tidak hanya satu tempat saja.
Jangan tiba saat tiba akal, nanti ada korban jiwa lagi baru dilakukan penanganan,” jelas Endang, warga Kayumerah. Dia mengatakan, tersebarnya berita tentang meninggalnya seorang bocah di Kelurahan Hunggaluwa membuat orang tua saat ini khawatir. Belum lagi cuaca ekstrim belakangan ini yang menjadi cikal bakal berkembangnya nyamuk Aedes Aegypti, “Kami berharap semua wilayah endemik tolong ditangani. Jangan sampai jatuh korban baru ada tindakan,” jelas Endang lagi.
Sanitarian Puskesmas Limboto, Sri Susanti Laumewa, menekankan bahwa pihaknya telah melakukan penanganan wilayah rawan DBD, terlebih radius 200 meter dari rumah korban yang kemarin dinyatakan meninggal karena DBD.
“Jadi kami lakukan fogging dan PSN di sekitar rumah korban dan di sekolah yang tidak jauh dari rumah korban. Sehingga kami harap langkah penanganan ini bisa membunuh jentik dan nyamuk dewasa,” ujar Sri. Selain itu Sri juga menjamin akan tetap melakukan penanganan di sejumlah wilayah endemik DBD secara bertahap.(tr-56)
