Sabtu, 3 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Menulis di Kertas Nasi Bungkus pun Bisa sampai Tiga Bab

Oleh Admin Hargo , dalam Selebriti , pada Rabu, 28 September 2022 | 22:05 Tag: , ,
  REHAT PANJANG: Andrea Hirata (tengah) saat peluncuran karya terbarunya, "Brianna dan Bottomwise" di Jakarta (21/8). (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)

Hargo.co.id, JAKARTA – Novel yang Hampir Membuatnya Menyerah Penanda 17 Tahun Andrea Hirata Berkarya

Andrea Hirata sempat bingung mau dibawa ke mana cerita novel terbarunya, tapi akhirnya bisa menulis sampai 200 bab yang rencananya dibagi menjadi trilogi. Dia mengakui, sampai sekarang belum ada karyanya yang bisa menandingi Laskar Pelangi, yang disebutnya sebagai ”titipan langit”.

KHAFIDLUL ULUM, Jakarta

ANDREA Hirata masih ingat pesan gurunya ketika mengikuti International Writing Program (IWP) di University of Iowa, Amerika Serikat, pada 2015. Kala itu, guru besar di bidang penulisan kreatif tersebut menyatakan bahwa tema yang paling sulit dalam menulis fiksi adalah musik.

”Waktu itu saya nggak percaya,” tutur penulis tetralogi Laskar Pelangi tersebut saat peluncuran buku barunya, Brianna dan Bottomwise, di Jakarta bulan lalu.

Bagi penulis kelahiran Belitung pada 24 Oktober 1967 itu, yang paling sulit dalam menulis fiksi adalah bidang psikologi, antropologi, politik, dan tema lainnya. Musik, menurut dia, tidak terlalu sulit karena bahannya sangat banyak.

Namun, setelah menjalani sendiri tantangan gurunya itu dalam penulisan Brianna dan Bottomwise, Andrea baru sadar dan mengakui bahwa apa yang dikatakan sang guru benar. ”Ini novel pertama yang membikin saya hampir menyerah,” tutur dia.

Selama ini, sepanjang 17 tahun karier kepenulisannya, dia tidak pernah merasa ”setidakberdaya” itu dalam menulis karya sastra. Brianna dan Bottomwise betul-betul menguras pikiran dan tenaganya.

Setelah dua minggu menulis naskah, Andrea menceritakan, dirinya tiba-tiba berhenti. Dia bingung mau dibawa ke mana cerita novel tersebut.

Menulis fiksi bertema musik akan mudah terjebak dalam tulisan biografi atau tulisan untuk majalah musik. Andrea pun berusaha keras untuk menghindari jebakan tersebut dan akhirnya berhasil menyelesaikan naskah novel pertama bertema musik.

Sebelum mulai menulis naskah untuk karya terbarunya tersebut, dia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk melakukan riset. Selain membaca banyak karya tentang musik, dia juga kerap bertanya kepada temannya yang ahli musik.

Awalnya, lanjut dia, Brianna dan Bottomwise direncanakan menjadi dwilogi. Tapi, karena naskah yang sudah ditulis cukup banyak, sekitar 200 bab, rencana itu pun berubah. ”Mungkin akan menjadi trilogi,” terang Hirata.

Dia mengaku memang sering berubah pikiran terkait seri karyanya. Yang awalnya trilogi berubah menjadi tetralogi.

Brianna dan Bottomwise merupakan novel ke-14 Andrea. Karya debut yang langsung melambungkan namanya adalah Laskar Pelangi, kemudian dilanjutkan Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Karya-karyanya lain menyusul setelah itu. Di antaranya, Buku Besar Peminum Kopi, Sebelas Patriot, Padang Bulan, dan Cinta di Dalam Gelas.

Demikian suksesnya Laskar Pelangi di pasar, karya itu sampai diadopsi ke dalam dua format berbeda. Yang pertama film layar lebar, berikutnya drama musikal. Kesuksesannya juga melahirkan banyak epigon dengan setting berbeda, tapi sari cerita yang senada.

Andrea mengakui, sampai sekarang belum ada karyanya yang berhasil menandingi keberhasilan Laskar Pelangi. Banyak orang yang selalu membandingkan karyanya yang lain dengan kesuksesan Laskar Pelangi. ”Bahkan, saya sendiri juga seperti itu,” tutur dia.

Dia sudah berusaha menulis karya seperti Laskar Pelangi, tapi tidak berhasil. Tiap kali ada yang bertanya, dan itu sering terjadi, bagaimana dirinya bisa menulis Laskar Pelangi, dia selalu tidak bisa menjawabnya.

Menurut dia, kesuksesan Laskar Pelangi berkah dari Ibu Muslimah, salah satu tokoh dalam karya tersebut. Jadi, bukan karena dia penulis brilian.

Laskar Pelangi, lanjut Andrea, merupakan karya titipan dari langit. Bisa saja dititipkan ke orang lain. ”Kebetulan dititipkan kepada saya,” tuturnya.

Selain dibaca banyak orang dan diadopsi ke bentuk seni lain, novel itu juga berdampak besar terhadap kemajuan daerahnya, Belitung. Berkat buku dan film Laskar Pelangi, Belitung melambung jadi destinasi wisata incaran.

Belitung pun mendapat julukan Bumi Laskar Pelangi. Menurut Andrea, sejak terbit dan munculnya film Laskar Pelangi, kunjungan wisata naik 1.800 persen. Dunia akhirnya mengenal Belitung.

Dia pun terus berusaha memajukan daerahnya. Museum, kata Andrea Hirata, menjadi salah satu buktinya. Melalui museum itu, masyarakat akan mengetahui sejarah Belitung.

Museum tersebut juga menjadi tempat mendidik anak muda sebagai penulis. Sebelum pandemi Covid-19, pihaknya sering mengumpulkan siswa SMA untuk belajar menulis.

Andrea juga berusaha melestarikan bahasa asli Belitung. Menurut dia, ada 50 kata asli pulau yang satu provinsi dengan Bangka tersebut yang hampir punah. Pihaknya sudah melakukan riset. ’’Kami punya datanya,” ungkapnya.

Andrea mengembangkan pula budaya asli Belitung. Salah satunya seni tari dan orkes Melayu. Saat peluncuran buku terbarunya, dia pun mengajak beberapa penari asli Belitung untuk meramaikan acara tersebut.

Alumnus Universitas Indonesia itu mengaku tipe penulis yang spontan. Ketika melihat sesuatu yang menarik, dia pun cepat-cepat menulis.

Dia bisa menulis dengan apa dan di mana saja. Misalnya, ketika sedang makan nasi bungkus. Ketika muncul ide, dia bisa memanfaatkan kertas bungkus nasi tersebut sebagai medium, bahkan sampai menghasilkan tiga bab.

Andrea menulis apa yang dia alami dan rasakan. ”Menulis itu seperti bernapas,” ungkapnya.

Hidup merupakan proses bercerita. Hidupnya memang lekat dengan budaya bertutur. Tumbuh di lingkungan Melayu, bahkan ketika ibunya marah pun disampaikan melalui pantun.

Dia menambahkan, setiap menulis naskah novel, dirinya tidak pernah membaca ulang. Selesai, langsung dikirim ke editor. Karena itu, kerap terjadi kesalahan tulis.

Misalnya, kata ketika sering ditulis ketiak. ”Editor hampir mengalami gangguan jiwa,” katanya seraya terkekeh.

Nurani Puspitosari –editor Bentang Pustaka yang menerbitkan karya-karya penulis yang pernah menuntut ilmu di Paris, Prancis, dan Sheffield, Inggris, tersebut– membenarkan. Rani, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa Andrea mempunyai ciri khas tersendiri.

Gaya berceritanya seperti orang Melayu bertutur. Mungkin, gaya bahasanya itu dianggap tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Namun, Bentang justru mempertahankan itu.

“Kalau diubah, justru akan membunuh kekhasan itu,” ucapnya.(JawaPos.com)

 

 

 

 

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JawaPos.com, dengan judul: “Menulis di Kertas Nasi Bungkus pun Bisa sampai Tiga Bab“. Pada edisi Rabu, 28 September 2022.
(Visited 15 times, 1 visits today)

Komentar