Meski Harga Naik! Gorontalo: Puasa Pertama, Harus Daging Ayam

×

Meski Harga Naik! Gorontalo: Puasa Pertama, Harus Daging Ayam

Share this article
PARA warga ramai membeli daging ayam di Pasar Sentral Kota Gorontalo sebagai menu hidangan sahur, Minggu (5/6).(Natha/Gp/Hargo)

Padahal pada pasar Jumat sebelumnya, harga ayam boiler atau pedaging ini naik hingga 50 persen, berkisar Rp 75 Ribu per ekor. “Alhamdulillah, stok sudah banyak, makanya harganya sudah standar,” ungkap Wawan, salah seorang pedagang ayam boiler.

Sementara itu, Une pedagang ayam kampung yang ditemui mengatakan, harga ayam kampung tidak mengalami kenaikan. Bahkan, cenderung menurun. “Kemarin (pasar Jumat,red), saya jual sampai Rp 85 Ribu per ekor.

Sekarang Rp 80 Ribu. Ini ada juga yang Rp 70 Ribu,” ungkap Une yang sengaja beternak ayam kampung untuk persiapan Ramadan. Lain lagi dengan harga daging sapi.

Ka Mini, salah seorang pedagang daging mengatakan, harganya tidak mengalami perubahan meski permintaan daging super melonjak. “Saya punya tetap saya jual Rp 110 untuk daging super,” pungkasnya.

Di Boalemo, pantauan Gorontalo Post beberapa harga kebutuhan pokok di lokasi pasar Minggu Desa Wonggahu, Kecamatan Paguyaman mengalami peningkatan.

Di antaranya telur ayam yang mencapai Rp 3 ribu per butir. Kemudian gula merah yang sebelumnya Rp 8-10 ribu per buah, menjadi Rp 10-15 ribu per buah. Dan yang paling melonjak, adalah harga ayam kampung berkisar Rp 60-90 ribu per ekor.

Di Bone Bolango menjelang Ramadan, harga ayam kampung mencapai Rp 75-125 ribu per ekor. Sementara untuk telur ayam berkisar Rp 48-50 ribu per bak.

Pedagang Musiman Di sisi lain, tingginya permintaan daging ayam menjadi peluang pasar tersendiri. Tak heran bila sepekan menjelang datangnya Ramadan, para pedagang ayam musiman menjamur. Bahkan sehari menjelang Ramadan, banyak pedagang yang menawarkan ayam di pinggiran jalan.

Seperti pantauan Gorontalo Post di Jl. H.B Yassin (eks Jl. Agus Salim). Di lokasi tersebut terdapat beberapa titik pedagang yang menjajakan ayam. Umumnya ayam yang dijual adalah ayam kampung. Ada yang menjual dengan menggunakan sepeda motor, becak motor (bentor) ataupun mobil.

Selain itu ada pula yang menjual ayam broiler ataupun ayam petelur yang sudah tak produktif lagi. Umumnya, harga yang ditawarkan tak jauh beda dengan harga di pasar.