Menurut penuturan warga sekitar, dulunya pasar tersebut diresmikan oleh Jaksa Makahap pada tahun 1963. Bahkan, lokasi itu merupakan sebuah pasar buah pisang, kelapa, kacang-kacangan dan umbi-umbian serta lainnya yang hanya memiliki 10 petak.
Dulunya penjual di lokasi didominasi oleh masyarakat Jawa Tondano. Hasil bumi yang dipanen masyarakat lokal itu diperjual belikan di tempat tersebut bahkan transaksi pun masih menggunakan recehan mata uang tempo dulu.
Ramli Walangadi, warga kampung Bugis itu menceritakan bahwa beberapa tahun berjalan, pasar Satya Pradja mulai mengalami pasang surut, menyusul adanya kebijakan relokasi pedagang buah yang sekarang ada di daerah Kramat.
Kemudian pasar Satya Pradja juga sempat kosong tak dimanfaatkan beberapa waktu diperalihan menuju masa kepemimpinan Walikota Takiniode. Namun pasar Satya Pradja bergeliat kembali.
Sayangnya, sekarang penjual buah yang mendominasi di lokasi itu kini tak ada lagi malah beralih ditempati para penjahit senior era tahun 1970 yang masih aktif membuka usahanya.
Mereka diantaranya Ramli Walangadi, Moga Hamzah, Umar Arimas, Yu Suaib, Udin Rahman, Hendrik Hadad, Hamzah Husain, Mano Suleman, Unudan Ko’o Singgo.
Mereka menempati sebuah bangunan berlantai dua yang memiliki 20 ruang. Setiap bulannya mereka membayar sewa bangunan Rp 50 ribu saja. “Cuma murah pak sewa Rp 50 ribu bayar ke Pengelola Pasar,” ungkap Ramli Walangadi.
