Lanjut menurut pria kelahiran 59 tahun silam itu, bahwa bangunan yang kini ditempatinya tersebut tak lain merupakan bangunan yang didirikan tahun 2012 kemarin, menggantikan bangunan lama yang hanya memiliki 10 petak.
Kini selain para penjahit, beberapa ruangan diisi para pedagang gorden dan barang kebutuhan lainnya. Dirinya berharap akan ada perhatian pemerintah untuk dapat menata dan membenahi pasar tertua itu agar lebih bagus, sebab terkadang bila hujan turun, lahan pasar berlapis tanah itu becek dan banyak digenangi air hujan. “Semoga bisa diperhatikan,” tuturnya.
Tak hanya Pasar Satya Pradja, kawasan Pasar Tua Kota Gorontalo ternyata juga memiliki sejarah cukup panjang di daerah ini.
Sebagaimana informasi diperoleh Gorontalo Post, 0Pasar Tua sudah ada sejak masa Kerajaan Islam Sultan Amay masuk di Kota Gorontalo, sekitar tahun 1495 masehi. Dimana, Sultan Amay kala itu menyebar agama Islam di Gorontalo melalui jalur perdagangan.
Dan ini bisa dibuktikan dengan adanya Masjid Hunto, di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Saat itu pusat perdagangan berada di Pasar Biawu, sehingga masyarakat dulu menamakannya dengan pasar tua, yang dikenal sampai sekarang ini.
“Memang dari dulu pasar Biawu ini dikenal dengan pasar tua, karena kerajaaan Sultan Amay melakukan aktivitas perdagangannya di pasar ini, sambil mengajarkan agama Islam,” ungkap ketua takmirul Masjid Hunto, Syamsuri Kaluku.
Saat ini kondisi pasar tua tersebut tidak ada yang berubah, hanya tempat perdagangannya yang sudah dikembangkan oleh masyarakat. “Sekarang sudah banyak masyarakat yang jualan di pasar tua ini, mulai dari pedagang rempah-rempah. Dan sejak dulu, pasar Biawu ini dikenal dengan pasar tua,” ungkapnya.
Bahkan di kompleks pasar tua ini, terkenal dengan aneka makanan tradisonal Gorontalo yang sampai sekarang masih tetap dijual. (csr/wan/hargo)
