Pasca Tewasnya Santoso, dan Kedamaian di Poso

×

Pasca Tewasnya Santoso, dan Kedamaian di Poso

Share this article
BEBERKAN : Babuk Baku tembak Dengan Santoso dan Suasana Pemakaman Santoso Di Pekuburan Umum dusun Landangan desa lantojaya Poso Pesisir, Sabtu (23/7).

Tokoh Poso lain Abdul Gani yang rumahnya hanya beberapa ratus meter dari rumah orang tua Santoso menyebutkan, memang pelayat pemakaman Santoso berasal dari sejumlah daerah, seperti Morowali, Palu, Makassar, Parigi dan Palu. ”jumlahnya terlihat sendiri, ribuan,” paparnya.

Dengan tenang, Gani menyebut bahwa sebenarnya kelompok Santoso itu merupakan letupan sisa konflik Poso. Letupan itu muncul karena adanya dendam kesumat pasca konflik. Lebih dari 500 orang muslim meninggal. ”Karena itu jumlah orang yang mendukung Santoso itu begitu banyak. Mereka sebenarnya menaruh harapannya pada pundak Santoso,” jelasnya.

Namun, penegakan hukum di Poso ternyata begitu timpang. Hanya beberapa orang yang dihukum. ”Apalagi, Densus dan Brimob sering menangkap disertai dengan penganiayaan terhadap para ikhwan dan pemuda di sini. Pristiwa demi peristiwa ikhwan dianiaya,” ujarnya.

Luka terhadap masyarakat non muslim memang mulai sembuh. Tapi, ternyata luka itu bergeser dan ditujukan pada polisi. Dia menyebutkan bahwa target Santoso bukan masyarakat umum. Namun, polisi yang sudah dianggap musuh bebuyutan. ”Ketidakadilan memang bisa dimanfaatkan radikalisme, hingga muncul masalah pelik ini,” paparnya.

Haji Adnan menguatkan bahwa para kombatan konflik memang merasakan adanya pilih kasih dalam proses hukum di Poso. Semua orang yang dicurigai, ditangkap dan dipukuli. ”Setelah sekarat dan ternyata tidak terlibat, baru dilepas. Siapa yang tidak marah bukan kepalang,” ujarnya.

Namun, masalah yang sudah belasan tahun terjadi dan terus mendera ini bukannya tidak bisa selesai. Masih ada cara yang bisa ditempuh masyarakat Poso dan pemerintah. Yang kemungkinan besar akan meluruhkan kebencian dan menyembuhkan semua luka. ”Yakni, pengampunan atau amnesti pada semua anggota Santoso,” jelasnya.

Dia mengaku telah berkomunikasi dengan semua anggota keluarga kelompok Santoso dan bahkan dengan sejumlah anggota kelompok Santoso. Bila memang ada amnesti itu, maka semua akan turun gunung. ”Saya jamin itu semua,” tuturnya.

Bagaimana kalau memang masih ada yang menolak turun gunung? Dia mengatakan bahwa sebenarnya kemungkinan itu kecil. Tapi, bila memang masih ada yang menolak jalan besar untuk perdamaian ini, maka masyarakat mendukung untuk dikejar dan diproses hukum. ”Silakan diproses hukum, kami malah akan membantu,” paparnya.