Pasca Tewasnya Santoso, dan Kedamaian di Poso

×

Pasca Tewasnya Santoso, dan Kedamaian di Poso

Share this article
BEBERKAN : Babuk Baku tembak Dengan Santoso dan Suasana Pemakaman Santoso Di Pekuburan Umum dusun Landangan desa lantojaya Poso Pesisir, Sabtu (23/7).

 

Hargo.co.id POSO – Kematian pimpinan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso, hanya letupan kecil di bumi Poso, Sulawesi Tengah. Kemarahan justru makin terasa dari ribuan pendukung Santoso yang berduka.

Ternyata, Santoso hanya ujung tombak dari kegelisahan masyarakat muslim Poso. Gayung bersambut, amnesti memang diharapkan anggota Santoso cs. Kedamaian tinggal selangkah!

Sebuah ambulans tampak dari kejauhan, di belakangnya mengekor ribuan pengendara sepeda motor dan mobil yang seakan berlomba dengan waktu. Mereka memacu kendaraannya hampir 100 km per jam. Semua badan jalan Trans Sulawesi di sekitar dusun Landangan, Lanto Jaya, Poso Pesisir penuh.

Kendaraan dari arah berlawanan dipaksa menepi. Mobil ambulans berlalu, tapi pengendara yang mengekor masih begitu panjang. Baru dalam 20 menit jalanan mulai normal. Ambulans itulah yang membawa jenasah Santoso. Ternyata rasa duka cita begitu melimpah ruah mengalir karena kematian Santoso.

Jenasah Santoso dibawa ke rumah orang tuanya di Dusun Landangan. Rumah orang tua Santoso masuk ke dalam gang. Tepat di muka gang, terlihat sebuah spanduk bertuliskan ”Selamat Datang Syuhada Poso Santoso alias Abu Wardah”. Entah siapa yang membuat spanduk itu. Namun, dari gejala itu memang dapat dipastikan, Santoso bukan orang biasa dibenak mereka.

Sayup-sayup terdengar banyak orang meneriakkan lafazh Allahu Akbar. Teriakan itu dari arah rumah orang tua Santoso. Tokoh Poso sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Amanah Poso Adnan Arsal tampak hadir mengantar jenasah Santoso ke liang kubur.”Saya juga berduka atas kematian Santoso. Banyak Ikhwan yang berduka,” paparnya ditemui di rumahnya, Sabtu lalu (23/7).

Amarah memang memenuhi sebagian ikhwan pelayat Santoso. Bahkan, salah satu ikhwan yang ingin mengabadikan momen kematian Santoso harus berhadapan dengan ikhwan lain yang sedang penuh amarah. ”Kamera ikhwan yang memotret itu dibanting,” ujar Adnan.

Foto kondisi pemakaman Santoso dikhawatirkan akan membuat propaganda yang salah. Sehingga, bisa membuat kembali munculnya permasalahan lain. ”Memang mereka terlihat arogan, tapi itu demi semuanya,” tuturnya.Â