Pasca Tewasnya Santoso, dan Kedamaian di Poso

×

Pasca Tewasnya Santoso, dan Kedamaian di Poso

Share this article
BEBERKAN : Babuk Baku tembak Dengan Santoso dan Suasana Pemakaman Santoso Di Pekuburan Umum dusun Landangan desa lantojaya Poso Pesisir, Sabtu (23/7).

Sementara Komandan Satgas Operasi Tinombala Kombespol Loe Bona Lubis menuturkan bahwa upaya mendamaikan dan membuat menyerah kelompok Santoso sebenarnya sudah bertubi-tubi dilakukan. Tidak dilakukan dengan kekerasan terlabih dahulu, namun juga upaya persuasif. ”Membantu perekonomian keluarga kelompok Santoso dan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Dari bidang peratanian memang diberikan peralatan pertanian, seperti traktor dan sebagainya. Rumah keluarga kelompok Santoso juga diperbaiki semua. ”Kami mengutamakan cara-cara kekeluargaan terlebih dahulu, tapi ternyata belum efektif,” jelasnya.

Sementara Abdul Gani menyanggah bahwa masyarakat Poso Pesisir semata-mata menginginkan bantuan. Sebenarnya, proses hukum adil itulah yang diinginkan. Kalau soal perekonomian, bahkan seorang pedagang ayam di pasar saja memiliki rekening gendut.”Pernahkan ada yang ditangkap karena memiliki rekening Rp 1 miliar. Padahal dia pedagang ayam saja,: ujarnya.

Jaringan penduduk Poso Pesisir ini tidak hanya lokal. Namun, sampai internasional. Hal tersebut tentunya mudah untuk bisa membuat mereka mendapatkan bantuan. Namun masalah utamanya itu keadilan, semoga pemerintah bisa menunjukkan keadilan itu. Sehingga, semua akan kembali ke pangkuan ibu pertiwi. ”Kalau menengok ke belakang, maka peristiwa ini bisa seperti pemberontakan Kahar Muzakar,” paparnya.

Perlawanan yang dilakukan Santoso dan anggotanya memang berpengaruh besar pada Poso. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Poso hanya Rp 1,3 triliun. Padahal, ada sejumlah potensi pendongkat pendapatan daerah di Poso. Diantaranya, tambang emas, danau Poso, hutan dan pantai Penghibur yang indah. ”Semua potensi itu hingga saat ini sama sekali tidak tergarap,” ujar Bupati Poso Darmin A Sigilipu.

Tambang emas itu berada di sekitar Bukit Biru, tempat pelarian Santoso cs. Dulunya sudah ada penelitian yang menyebut bahwa memang ada kandungan emas yang begitu besar. Namun, karena perhitungan keamanan, akhirnya tidak satu perusahaan pun yang mau menggarapnya. ”Padahal, masyarakat membutuhkan perbaikan ekonomi,” jelasnya.

Semua obyek wisata di Poso juga masih dalam kungkungan. Dia mengatakan bahwa keindahan alam dengan bukti yang bergelombang dan pantai dengan air laut birunya juga jarang dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. ”Padahal keindahannya tak bisa dibandingkan. Kami juga memiliki danau terbesar kedua di Indonesia, setelah dana Toba. Tapi, jarang wisatawan yang juga kesana,” paparnya.(JPG/hargo)