Sabtu, 27 November 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Pemkot Utang Rp 7,3 M ke RSAS, Insentif Tiga Bulan Belum Terbayar

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo , pada Kamis, 15 Februari 2018 | 16:22 PM Tag: ,
  

GORONTALO, Hargo.co.id – Kondisi rumah sakit Aloei Saboe (RSAS) Kota Gorontalo saat ini sedang ‘sakit’. Stok obat di rumah sakit terbesar di Gorontalo menipis. Demikian pula insentif jasa bagi para pegawai belum terbayarkan.

Informasi yang dirangkum Gorontalo Post, kondisi yang dialami RSAS Kota Gorontalo itu terjadi sejak awal 2018. Bahkan untuk insentif jasa pegawai sejak Desember 2017 belum terbayarkan.

Sejumlah perawat mengakui, terakhir kali mereka mendapatkan insentif jasa pada awal Februari untuk pembayaran bulan November. Sementara Desember 2017 dan Januari-Februari 2018 ini belum terbayarkan.

Terkait hal itu, Plt Wali Kota Gorontalo Budi Doku yang dikonfirmasi Gorontalo Post mengakui bila dirinya sudah mendapat informasi dari masyarakat berkaitan kondisi RSAS.

“Saya sudah cek ke RSAS. Ternyata biaya program kesehatan gratis melalui kartu sejahtera sebesar Rp 7,3 miliar belum terbayarkan,” ujar Budi Doku. Menurut Budi Doku, anggaran Rp 7,3 miliar itu merupakan akumulasi biaya program kartu sejahtera selama 6 bulan.

“Hal itu mengakibatkan obat di RSAS menipis dan insentif dari pegawai tidak dibayarkan sejak bulan Desember,” ucap pria yang berlatar belakang dokter itu. Menurut Budi Doku, pihaknya akan menyeriusi persoalan yang ada tersebut. Sebab, kesehatan merupakan hal penting yang harus diperoleh masyarakat Gorontalo.

“RSAS sekarang sudah mengelola keuangannya sendiri, sudah menjadi badan layanan umum, sehingga tidak lagi mendapatkan dana APBD. Sehingga segala sesuatu itu diupayakan secara mandiri oleh RSAS lewat DAD dari pasien,” tutur Budi Doku.

“Sangat disayangkan jika Pemkot sendiri belum membayarkan dana pasien yang ditanggung lewat kartu sejahtera. Kasihan RSAS tidak ada uang lagi untuk opersional mereka,” sambung Budi Doku.

Dengan adanya temuan tersebut, Budi Doku akan segara melakukan tindaklanjut dari persoalan itu. “Ini mengenai hak dan juga pelayanan kepada masyarakat untuk kesehatan. Jangan sampai seperti ini. Kasihan masyarakat,” ucap Budi.

Menurut Budi Doku, pihaknya akan segera memanggil SKPD terkait, termaksud pihak RSAS sendiri. Dirinya akan mengecek puila jika berapa banyak dana yang dialokasikan untuk biaya kesehatan gratis.

“Saya tidak pernah mendapatkan laporan dari Dinas Kesehatan, dari staf ahli, dari tim kerja Wali Kota terkait dengan masalah-masalah seperti ini. Kalaupun DPRD mau lakukan dengar pendapat, saya siap hadir untuk itu,” kata mantan anggota DPD RI itu.

Terakhir, untuk mengantisipasi kekurangan obat, Budi akan meminta bantuan kepada seluruh Apotek untuk dapat membantu RSAS dalam menyediakan obat bagi masyarakat. Sehingga tidak terjadi keluhan dari masyarakat kurangnya obat.

“Nanti kita akan bayar Apotek yang membantu kami untuk membantu pinjamkan obat. Untuk pegawai yang belum dibayarkan insentifnya bersabar dulu. Itu pasti terbayar. Pemerintah tidak akan bangkrut. Kecuali pemerintah itu salah urus,” tandasnya.

Sementara itu, Gorontalo Post mencoba melakukan komunikasi terhadap pihak RSAS. Hingga berita ini dilansir, tak ada satupun pejabat RSAS yang memberikan keterangan terkait persoalan ini. Bahkan Direktur RSAS yang beberapakali dihubungi tidak juga mengangkat telepon dari Gorontalo Post.(ndi/hg)

(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar