“Pertama harga yang ditawarkan ke saya adalah Rp 5 juta setiap bulanya, lalu kami sepakat Rp 6 juta per bulan,”ujarnya.
Setelah deal, Aprianto menyerahkan satu unit mobil avanza kepadanya. WM lantas menyerahkan uang Rp 6 juta sebagai biaya sewa mobil selama satu bulan.
“Dia (WM) meminta fee dari saya Rp 250 ribu/ mobil, sedangkan untuk sisa Rp 1 juta dijanjikan akan dibayar setelah mobil tak lagi dikontrak †ujarnya.
Beberapa hari kemudian, WM kembali meminjam mobil padanya, begitu seterusnya hingga mencapai enam unit. Harga yang dibanderol untuk setiap mobil sendiri menurut Ariyanto beragam tergantung jenis mobil. Untuk mobil ukuran kecil seperti Agya dan Ayla dihargai Rp 5 juta perbulan, sedangkan untuk mobil seperti Avanza dan Xenia dihargai Rp 6 juta perbulan.
Bulan pertama pembayaran WM lancar, sehingga dengan mudah saja ia memberikan enam unit itu pada WM. Mobil-mobil yang disewakan kepada WM sebetulnya, bukan semua milik Ariyanto, tapi juga milik rekanya dikelolanya sebagai mobil taksi bandara dan mobil sewa. Dalam dua bulan terakhir, WM mulai menunggak uang sewa. Awalnya Ariyanto masih menerima alasan-alasan yang disampaikan MW. Tapi, begitu terus ditagih, WM malah terus menghindar dan sulit ditemui.
Puncaknya pada beberapa hari lalu, Ariyanto mendatangi langsung kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Gorontalo tempat WM bekerja. Ia menemui langsung pimpinanya.
Tapi ia begitu terkejut, ketika mendengar penyampaian rekan kerja MW, bila WM sudah ditahan polisi di Mapolsek Kota Tengah Kota Gorontalo, dengan sangkaan penipuan dan penggelapan mobil.
“Saya langsung ke sini (Polsek). Saya juga ikut melaporkanya,”kata Ariyanto.
Rupanya korban WM bukan hanya Ariyanto, telah banyak perorangan dan bahkan dua rental mobil seperti rental Almagfira dan Nuralim di Jl Andalas, Kota Gorontalo ikut menjadi korban.
“Saya harap ini ditindak,”tegasnya.
Dari pengembangan kepolisian setelah mendapati laporan penipuan, peran WM cukup rapi. WM meminjam mobil pada sejumlah rental maupun perorangan Ariyanto dengan berbagai alasan, salah satunya dengan menggunakan nama instansi pemerintah agar aksinya mulus. Setelah mendapati mobil, ia diduga bekerjasama dengan oknum pegawai salah satu finance di Kota Gorontalo.
Oknum finance ini mengeluarkan surat keterangan, bahwa mobil yang dibawa WM adalah benar dalam penguasaan finanace. Berdasar surat keterangan finance itu, ia lalu mencari orang untuk menggadai mobil-mobil tersebut. Kepada para calon penyewa mobil, ia beralasan jika sangat membutuhkan dana, makanya dirinya hendak menggadaikan mobil. Soal surat-surat lengkap, hanya saja BPKP masih berada di finance yang ada hanya surat keterangan.
