Sabtu, 29 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



PPKM Tiga

Oleh Admin Hargo , dalam DI'SWAY , pada Jumat, 10 Desember 2021 | 10:05 AM Tag: , , ,
  PPKM Tiga - DI'SWay

Oleh : Dahlan Iskan

Mencla-mencle,” kata yang sinis.

“Fleksibel,” kata yang memuji.

Ada lagi.

“Kaku,” kata yang sinis.

“Tegas,” kata yang bersimpati.

Cukup dulu.

Terlalu banyak contoh: satu objek bisa digoreng ke arah mana pun –sampai ada yang melucu, itulah yang membuat harga minyak goreng meroket belakangan ini.

Beda dengan PPKM level 3 akhir tahun ini. Yang sudah dibatalkan itu. Lalu disempurnakan lagi itu. Tidak ada yang menilai itu sebagai mencla-mencle. Hampir semua mendukung: bagus, sudah tepat, terima kasih.

Kita rupanya memang harus biasa membedakan mana janji dan mana program. Janji harus ditepati. Program bisa berubah mendadak.

Biasa membedakan mana janji dan mana program bisa sedikit mengurangi kebisingan politik. Tidak semua yang tidak jadi dilaksanakan dikecam sebagai ingkar janji.

Mengapa tidak ada penilaian mencla-mencle di PPKM 3 akhir tahun?

Sebuah program tentu didasarkan pada asumsi. Asumsi bersandar pada data atau hipotesis.

Data menunjukkan: setiap liburan serentak, menyebabkan naiknya kasus Covid-19. Data juga menunjukkan munculnya varian baru: Omicron. Dua-duanya menyatu di akhir tahun ini.

Maka wajar kalau diprogramkan PPKM 3 di liburan akhir tahun.

Tapi tiga minggu setelah lahirnya Omicron ternyata dunia baik-baik saja. Memang, di Afrika Selatan –awal ditemukannya Omicron– terjadi kenaikan kasus secara drastis. Dari awal bulan lalu 2.000 sehari, menjadi 4000, 8000, 12.000, turun sedikit, dan menjadi 18.000 dua hari lalu. Tapi jumlah kematian akibat Omicron tetap kecil.

Itulah sebabnya saya suka dengan logika yang dikemukakan peneliti virus Protokol Rakyat: sepanjang namanya masih Covid-19, varian apa pun, tingkat kematiannya tetap sekitar 2 persen.

Itu sudah terbukti. Lalu menjadi data baru.

Di Indonesia, Anda sudah tahu, ada juga berita kedatangan Omicron di sini. Tapi tidak sampai membuat heboh.

Maka diputuskanlah: PPKM level 3 dibatalkan. Lalu disusul keputusan baru: disesuaikan dengan kondisi es-es –”sesaat setempat”.

Semua lega.

Tiba-tiba saja perpecahan di NU berakhir. Yang awalnya gegeran menjadi ger-ger-an. Pertengkaran pun berakhir: Muktamar ke 34 tetap seperti rencana semula: 23 sampai 25 Desember 2021. Tetap pula di Lampung.

Kubu yang ngotot minta dimajukan ke 17 Desember seperti kertas kena cendol. Kubu yang minta dimundurkan ibarat benang kena dawet.

Selamat bermuktamar tanpa kena PPKM.

Inul Daratista juga tidak jadi sewot. Dia sudah telanjur kirim WA panjang ke saya: curhat mengenai nasib 100 lebih karaoke keluarga miliknyi. Yang baru sebulan lalu boleh dibuka. Dengan protokol kesehatan karaoke yang khas Inul: begitu masuk tidak boleh keluar masuk.

Inul punya lebih 2.000 karyawan. Semua harus hidup. Baru saja mereka terasa bisa bernapas lagi. Setelah lebih satu tahun kehilangan pekerjaan.

Saya menjadi sering bertemu Inul. Terutama setelah tahu bahwa resto Korean food, Yongdaeri, itu ternyata miliknyi. Yang di dekat rumah saya di SCBD Jakarta itu. Masih empat lokasi lagi Korean food yang dimilikinyi.

Super Air Jet juga akan terus take off. Di tengah kesulitan Garuda dan Air Asia, Lion Group justru meluncurkan perusahaan penerbangan baru: Super Air Jet.

Dalam sekejap sudah punya delapan rute. Dan akan bertambah terus: sampai 40 rute. Pangsa pasarnya: anak muda millennial –meski teman saya yang mulai tua juga mencobanya.

Rupanya pangsa pasar Citilink dan Air Asia akan direbutnya. Lihatlah seragam dan penampilan pramugarinya: sangat masa kini.

Bali sudah pasti horeee. Apalagi, sampai sekarang ini belum juga ada penerbangan asing yang membawa turis ke Bali. Padahal sudah dua bulan dibuka untuk mereka.

Sampai-sampai ada usul unik untuk Bali: bubble management. Khususnya untuk turis yang terkoordinasi dalam satu grup.

Grup turis itu akan ditangani seolah-olah dimasukkan dalam satu balon raksasa. Mereka tetap berada di dalam balon itu selama di Bali. Balon itu bisa ke mana-mana. Tidak terinteraksi dengan orang di luar balon.

Tentu itu bukan balon sungguhan. Artinya: mereka terus bersama satu grup selama di Bali. Di satu hotel, di satu restoran, di satu bagian pantai, di satu bar.

Itu memerlukan kecanggihan manajemen. Tapi bukan hil yang mustahal. Paket turis ”bubble management” akan bisa menghidupkan Bali.

Lantas di mana letak kebijakan akhir tahun ”sesaat setempatnya”?

Itu lebih diserahkan kepada masing-masing daerah. Terutama daerah yang punya tujuan wisata. Bisa jadi arus kendaraan ke Puncak akan dikendalikan. Demikian juga kendaraan ke Bandung. Atau ke Batu dan Malang. Ke Tretes dan Pacet di gunung Penanggungan. Juga di tempat sejenis di Jateng.

Kelihatannya aturan mobil ganjil-genap akan diperlakukan ke kawasan-kawasan wisata itu. Kalau tidak memang bisa dibayangkan: betapa macetnya.

Sudah dua tahun nafsu itu tertahan. Bisa tiba-tiba meledak.

Tiga hari di Jakarta ini saya merasakan betapa kemacetan sudah mulai normal. Dari Rojo Duren di Kelapa Gading ke SCBD di Jaksel sudah kembali ke hampir dua jam.

Saya pun, menghadapi akhir tahun, mengecek kondisi tubuh: antibodi 520. Level vitamin D, 71. Kolesterol normal. Tekanan darah normal. Fungsi hati sangat baik. Hanya D-Dimer tetap saja: 2060. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Artikel Berjudul Bahasa Teknik

Udin Salemo
selamat siang pak Jo. Sehat dan sukses selalu.

Kawulo Alit
Alhmdulillah.. Guberner Jakarta : ini hasil dr kerja kita semua  Kadrun : goodbener nih Cebong : gakbener bener nih Insinyur : luar biasa Presiden wakanda : ……… (Ga tahu belia komen apa, takut salah nebak ntar masuk bui) Artis istagram : wah istagramamble Yutuber : mantab nih buat konten Alumni 212 : mudah mudahan bisa reuni di sana Peseakbola : yuk nendang di sana Pencari kerja : wah ini lowongan Ojol : asyik rute job menanti Yah nmnya manusia, beda kepala beda pola pikir.. Semoga Tuhan anugrahi Indonesia dengan hal hal semacam ini

Co Ba
Politikus kok bayar… politikus itu nadahin bayaran.

Komentator Spesialis
Sales : Bisa nanti diusahakan Teknisi : Dihitung dulu apakah bisa. Politikus : Bayar dulu, bisa

Ribut Wahyudi Sukiran
Sekedar info, pekerjaaan lifting atap besar seperti seperti stadion Jakarta, setahu saya pernah dilakukan di Indonesia / Jakarta. Proyek pembangunan hanggar 1 milik GMF anak usaha Garuda seluas 300 x 80  M ( ?), atap nya juga di ‘lifting” setelah ter rakit utuh di bawah. Kontraktor pelaksananya Hutama karya – Takenaka komuten JO, di sekitar tahun 1988.

Jo Neka
Bahasa teknik mampu menyatukan para insinyur dari berbagai almamater..Tetapi belum tentu menyatukan para komentator Disway..mari kita saksikan ..

padas gempal
Pakde saya juga orang teknik.. Waktu senggangnya selalu dihabiskan untuk membaca buku² teknik tersebut… Tiap waktu senggangnya selalu dihabiskan dengan duduk² saja bersama temannya.. Duduk berhadap-hadapan, sesekali tangannya memindah kayu² kecil yg diukir, sesekali nyurup kopi.. Walaupun tiap hari membaca buku² teknik, tapi saya yakin pakde saya tidak mengerti tentang teknik² yg ditulis pak DI pada artikel hari ini. Karena, ternyata buku teknik yg selalu dibacanya adalah buku: Teknik Bermain Catur

Gliss AE
TEKNIK atau REKAYASA  , Kejuruteraan (Melayu) Engineering (Inggris), jadi kata merekayasa sebenernya berkonotasi Positif, tapi seiring waktu menjadi konotasi negatif, Contoh: Rekayasa Kasus, Rekayasa Politik dll. seperti halnya kata ” Mengakali” yang berkonotasi negatif, padahal seharusnya itu berkonotasi positif, MENGAKALI = TEKNIK. #teknik

Mirza Mirwan
Kalau benar National Geographic merekam pengangkatan atap super jumbo itu berarti akan ditayangkan di serial Megastructures. Dan kita boleh bangga, tentu saja. Sejak diluncurkan th 2004 belum pernah sekali pun ada proyek konstruksi di negara kita yg ditayangkan di Megastructures. Sementara negeri Jiran, Malaysia, sudah tiga kali masuk serial di kanal National Geografic itu: Menara Petronas, Terowongan SMART dan Penang Second Bridge (Hambatan Sultan Abdul Halim Mu’adzam Shah). Singapura juga sudah dua kali: Port of Singapore dan Marina Bay Sand. Entah kapan National Geographic akan menayangkannya. Yang pasti, tentunya, menunggu hingga rampungnya proyek JIS itu. Kita tunggu saja.

Liam
kalo orang melayu Pontianak ketemu, pasti sapaannya “ape buat”. Kalau begitu pas Pak Midji ketemu kenalan, di sapa “ape buat” , jawabannya mungkin “pening bang” kwkwkw.

Tyang Mjk
dolo aku seneng baca komen di DIsWay ini, tapi sekarang jadi males, karena isinya cuma tawuran. apapun topik yang ditulis abah DI selalu jadi bahan tawuran antar kelompok, ada nyang diberi nama kadrun ada nyang diberi nama cebong atawa apalagi mbuh. padahal setiap nyang namanya manusia pasti ada BAIK dan BURUK, sebaik-baiknya orang pasti ada sisi buruknya, pun sejelek-jeleknya orang pasti ada sisi kebaikannya. janganlah berlebihan memuji juga janganlah berlebihan membeci, karena semua adalah ciptaanNYA.

(Visited 17 times, 1 visits today)

Komentar