Minggu, 23 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Predator Seks di Kabupaten Gorontalo Melonjak, Ini Penyebabnya

Oleh Admin Hargo , dalam Podcast , pada Sabtu, 18 Desember 2021 | 00:05 AM Tag: ,
  Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Gorontalo, Sri Dewi Nani S.H, M.H saat menjadi bintang tamu dalam Femmy Udoki Podcast yang tayang pada Selasa, 07/12/2021. (Foto: Istimewa/Tangkapan Layar)

Hargo.co.id, GORONTALO – Ada beberapa hal yang menyebabkan tingkat predator seks, atau kekerasan seksual, meningkat di Kabupaten Gorontalo, Tahun 2021. Salah satunya adalah perkembangan teknologi yang dengan begitu mudah dimanfaatkan. Sayangnya, wadah tersebut bukannya dimanfaatkan pada hal-hal positif, malah sebaliknya.

Angka kasus pelecehan seksual di Kabupaten Gorontalo, menunjukan tren kenaikan. Hal itu dinyatakan Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Gorontalo, Sri Dewi Nani S.H, M.H, ketika menjadi bintang tamu di Femmy Udoki Podcast yang tayang di channel YouTube Femmy Kristina Selasa, (07/12/2021).

Dalam pemaparannya, Sri Dewi Nani, menyebut, terhitung dari 2020-2021 tingkat kasus kekerasan seksual di daerah ini, tercatat berada di angka 267 persen yang menurutnya, hal tersebut juga disebabkan oleh pernikahan anak dibawah umur.

Adapun peningkatan kasus yang terjadi secara signifikan di masa pandemi Covid-19, katanya, itu diakibatkan oleh peralihan aktivitas masyarakat. Yang mana saat ini, paling banyak beraktivitas di dalam jaringan (daring). Baik untuk sekolah, maupun pekerjaan yang dilakukan secara daring. 

“Kalau kami amati dari dua tahun terakhir, mereka (korban) mengenal pasangan yang merupakan pelaku dari kejahatan seksual melalui dunia maya,” ungkapnya.

Faktor penyebabnya, lanjut Sri Dewi Nani. Pertama, pengaruh Gadget (Telepon Genggam). Banyak anak yang memberikan alasan kepada orang tuanya, untuk belajar daring. Padahal hanya sibuk berkenalan dengan orang-orang di media maya seperti Facebook, WhatsApp dan lainnya. Akhirnya, menjadi korban dari pelaku kejahatan.

Kedua, pengaruh ketahanan keluarga. Biasanya, baik korban maupun pelaku kekerasan seksual, terlahir dari ketahanan keluarga yang tidak kokoh. Ketiga, efek pandemi yang mengakibatkan korban menggunakan Gadget. Di mana, lebih sering belajar daring, juga untuk mencari pasangan di dunia maya.

Selanjutnya, kata Kadis DP3A itu, edukasi seks juga yang sangat kurang. Padahal zaman sekarang menurutnya, hal ini menjadi sangat penting dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya.

Orang tua lanjut Sri Dewi Nani, harus bisa menasehati anak-anaknya, memberikan pemahaman. Misalnya, memberitahu bagian tubuh mana yang bisa, atau tidak bisa dipegang orang lain. Hal ini guna menghindari predator seksual. 

“Contohnya kejadian yang kami dampingi tadi, seorang anak yang baru 4 hari ketemu di Facebook, kemudian diajak ketemu dan dikasih minuman berisi obat. Setelah di perjalanan, ternyata anak tersebut tidak dibawa pulang, melainkan dibawa ke tempat lain yang akhirnya disetubuhi,”ungkapnya.

Lebih lanjut kata Sri Dewi Nani, tak bisa dipungkiri pula, selain berangkat dari perkembangan dunia maya, kasus seperti ini juga ternyata kebanyakan pelakunya, justru merupakan orang terdekat korban itu sendiri.

“Untuk kasus yang pelakunya adalah orang terdekat, ini yang kemudian membuat si korban enggan melapor kepada pihak berwajib, dengan alasan siapa yang mau percaya? Siapa saksinya? Olehnya, kami mengingatkan, hati-hati dengan predator anak, mereka tidak melihat jenis kelamin,” harapnya.

Terkait dengan bagaimana upaya DP3A Kabupaten Gorontalo untuk mencegah terjadinya kasus tersebut, Sri Dewi Nani, mengemukakan, yaitu dengan memberdayakan ibu dan anak.

“Karena kemarin konsentrasinya di Kabupaten secara luas, setelah saya melihat dari 2020-2021 ternyata saya tidak bisa sendiri, saya harus bergabung dengan semua pihak OPD (Organisasi Perangkat Daerah). Mitra Kerja, baik itu Polres, Kejaksaan dan sebagainya untuk membentuk “Lorong Perempuan Peduli Anak” dimulai dari 6 desa, dan Insyaallah siap action tahun depan,” imbuhnya.

Pembuatan Lorong Perempuan Peduli Anak sendiri, lanjutnya, melibatkan ibu-ibu PKK yang ada di Desa. Di samping itu, dibentuk taman bermain anak-anak. Sehingga ketika weekend, mereka No Gadget (Tanpa Telepon Genggam).

Menurut Sri Dewi Nani, alasan utama mengapa anak zaman sekarang lebih candu bermain telepon genggam, adalah karena ruang bermain yang semakin kurang. 

“Sehingga, pembuatan Lorong Peduli Anak ini, dapat mewadahi anak-anak untuk bermain dan bersosialisasi. Inovasi ini diharapkan, bisa mengurangi kecanduan terhadap telepon genggam, dan pengaruh dunia maya,” pungkasnya. (***)

 

Penulis: Rita Setiawati

(Visited 275 times, 6 visits today)

Komentar