Bagitu pun dengan produksi komiditi lain, seperti palawija dan hortikultura, dalam tujuh tahun terkahir, trend produksi terus melejit. Pemerintah juga mengembangkan peternakan ayam kampung, oleh para peternak, program ayam kampung ini diberi nama Ayam Kampung Unggulan Rusli (KUR), hasil pengembangan dari ayam kampung unggulan Balitnak, Bogor.
Tercatat sudah ada 960 kelompok peternak penerima manfaat program KUR dengan bantuan Doc (anak ayam) mencapai 545.395 ekor. Selaian ayam KUR ada pula program bedah kemiskinan rakyat sejahtera, dimana telah ada 909,600 ekor ayam yang dibagikan ke peternak.
Tak ketinggalan sapi dan kambing, tahun ini Pemprov bahkan mengadakan kurang lebih 1000 ekor sapi dan 231 kambing etawa, termasuk Upsus siwab 16.800 ekseptor. Urusan perkebunan, angka produksi juga tak kalah dengan jagung dan padi, produksi cengkeh naik 4,98 persen tahun 2018 dari angka tahun 2917, begitu pun kelapa naik 1,13 persen, dan kakao naik 10 persen dari 2016 ke 2017.
Infrastuktur pertanian pun terus dibangun, sejak 2016 sudah ada 49 embung yang dibangun, jaringan irigasi dan jalan tani dibangun, bahkan jaringan pompa air juga dibuat. Soal anggaran jangan ditanya, pada tahun 2011 anggaran Dinas Pertanian hanya Rp 31,7 miliar, pada tahun ini mecapai Rp 114 miliar, bahkan pada tahun 2015 mencapai Rp 239 miliar.
Produksi pertanian yang terus meningkat ini, dengan sendirinya mempengaruhi Pendapatan Domestic Regional Bruto (PDRB), pada tahun 2018, PDRB pertanian adalah yang paling tinggi mencapai 38,01 persen, sementara pertumbuhan ekonomi mencapai 9.09 persen.
Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Gorontalo tahun 2019, bahkan mengalahkan Sulut. BPS mencatat NTP Gorontalo pada Juni adalah 101,90 dan Juli 103,83 sementara Sulut hanya 93,91 (juni) dan 94,61 pada bulan juli. NTP Gorontalo bahkan tertinggi ke dua di Sulawesi setelah Sulawesi Barat.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian Daerah (Bapppeda) Provinsi Gorontalo, Budiyanto Sidiki, mengatakan, dengan produksi hasil pertanian di Gorontalo utamanya terjadi dalam beberapa tahun terakhir, Gorontalo tidak saja swasembada, namun surplus.
“Target swasembada semuanya terlampaui. Kita surplus semua produk pertanian, apalagi jagung. Produksinya tertinggi sepanjang sejarah Provinsi Gorontalo ada,”ujar Budianto Sidiki.
Jagung, kata Budi, bukan hanya mampu membantu kebutuhan nasional, tapi juga internasional, karena Gorontalo melakukan ekspor jagung. Produksi pertanian yang melejit itu, tidak terjadi sendirinya.
Ada strategi dan intervensi dari penjabaran visi Gubernur Rusli Habibie. Bahkan beberapa strategi pertanian menjadi acuan nasional, misalnya pemanfaatan brigade Alsintan, di Gorontalo Brigade Alsintan sudah mencapai 7.913 unit. Memang, salah satu fokus pemerintahan Gubernur Rusli Habibie adalah kinerja pertanian, Gubernur melihat sebagian besar profesi yang digeluti masyarakat Gorontalo adalah petani, makanya petani menjadi sektor utama program pemerintah.
“Setelah produksi pertanian yang meningkat ini, selanjutnya kita dorong adalah bagaimana menciptakan nilai tambah. Jagung tidak hanya dikirim mentah tapi sudah dalam bentuk kemasan atau menjadi produk industri,” kata Budi.
Untuk itu, pemerintah membuka keran investasi dan memberi jaminan kemudahan investasi. Kendati begitu, investor tetap punya hitung-hitungan bisnis, mereka paling banyak mensyaratkan ketersediaan infrastruktur seperti jalan dan energi.
“Makanya disamping perbaiki tata kelola pertanian, kita juga benahi infrastruktur. Inilah kerjaan kita yang sistematis,”jelas Budi.
Sehingga wajar, Pemerintah Provinsi Gorontalo juga membuka akses jalan, misalnya Gorontalo Outer Ring Road (GORR).
“Tahun-tahun pertama pak Gubernur Rusli dan Wagub menjabat, yang diperjuangkan selain jalan adalah listrik, energi. Dan Alhamdullilah, saat ini kita surplus listrik,” katanya.
Begitu pun dengan infrastruktur pendukung pertanian lainya, misalnya pembangunan bendungan, irigasi, termasuk waduk.
“Begitu pun pelabuhan, kita kembangkan. Kami terus mendorong masuknya arus modal ke Gorontalo,”tandas Budi Sidiki. (gp/hg)
