Mahasiswa KKN Terintegrasi MBKM UNG bersama Kader posyandu, orangtua balita dan pemerintah Desa Sarimurni, Kec. Randangan usai kegiatan Penyuluhan kemampuan pengukuran Antropometri pada Selasa, (27/12/2022). (Foto: Istimewa)

Program ‘Kerabat’ Tingkatkan Kemampuan Pengukuran Antropometri Kader Posyandu Desa Sarimurni

Ragam

Hargo.co.id, GORONTALO – Program Kerabat atau Kader hebat masyarakat sehat diusung oleh mahasiswa KKN terintegrasi MBKM Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di Desa Sarimurni, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengukuran antropometri bagi kader posyandu.

Antropometri sendiri berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia yang menjangkau tulang, otot hingga jaringan adiposa atau lemak. Program ini dinilai penting untuk kader posyandu yang melakukan proses pengukuran, agar lebih maksimal dan sesuai dengan standar Kemenkes RI.

banner 728x485

“Kegiatan penyuluhan dimulai dengan penjelasan seputar materi pengukuran Antropometri,” kata Koordinator desa KKN MBKM Desa Sarimurni, Sarif Djunaidi usai Pelatihan yang dilaksanakan di Aula Desa Sarimurni tersebut, Selasa (27/12/2022).

Balita yang sedang diukur menggunakan pengukuran Antropometri. (Foto: Istimewa)

“Kemudian dilanjutkan dengan pelatihan pengukuran antropometri yang baik dan benar mulai dari penggunaan alat ukur infantometer, microtoise, pita ukur LILA, pita ukur LIKA, dan dacin timbangan bayi atau tinbangan digital yang sesuai dengan prosedur dan langkah-langkah pengukuran antropometri,” Lanjutnya.

Kegiatan penyuluhan ini dilakukan oleh mahasiswa KKN dengan didampingi oleh petugas dari Puskesmas Motolohu serta pemerintah desa Sarimurni yang diikuti oleh kader posyandu, orang tua serta balita atau anak yang masih ikut dalam kegiatan posyandu.

Selain untuk kader posyandu, pemerintah desa pun memperoleh informasi alat-alat pengukuran antropometri yang sudah seharusnya ada dan membantu pemaksimalan penyediaan alat-alat pengukuran antropometri yang sesuai dengan standar kemenkes untuk kegiatan posyandu.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Lilan Dama menjelaskan, pelatihan seperti ini penting bagi kader posyandu karena alat ukur ini dapat mendiagnosa stunting, status gizi buruk atau kurang, sehingga bila pengukurannya salah maka akan mengakibatkan kesalahan dalam penanganan dan tindakan.

Dirinya mengatakan, pengukuran secara akurasi dan presisi menjadi indikator penting untuk memperoleh data akurat, terutama pada data balita yang masuk dalam kategori stunting dan non stunting. Pengukuran yang dilakukan tidak sesuai prosedur akan menyebabkan data bias dan kurang akurat sehingga akan terjadi kesalahan interpretasi status gizi anak.

“Alat ukur mesti terstandarisasi atau kalibrasi agar tujuan kita dalam memantau perkembangan anak dapat terlaksana sesuai dengan apa yang diintervensi,” Pungkasnya.(*)

Penulis: Rita Setiawati
Editor: Sucipto Mokodompis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *