Senin, 6 Desember 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Raih Beasiswa Luar Negeri di Usia Muda

Oleh Berita Hargo , dalam LifeStyle , pada Rabu, 24 Januari 2018 | 18:56 PM Tag: ,
  

Jika ada yang mengatakan bahwa melanjutkan pendidikan di luar negeri itu sulit, Ayu Anastasya Rachman sudah membuktikannya. Dia berhasil meraih gelar Master of Art (MA) by Merit in Education and International Development atau Pendidikan dan Pembangunan Internasional di University College London, hanya dalam waktu satu tahun diusianya yang baru menginjak 22 tahun.

Perempuan kelahiran 14 Mei 1995 ini dapat melanjutkan studi ke luar negeri dengan beasiswa Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP). Beasiswa tersebut tentu tidak diperoleh Ayu dengan mudah. Berdoa, perencanaan yang detil serta kemampuan menyesuaikan perencanaan adalah kita-kiat yang ditempuh Ayu untuk dapat memperoleh beasiswa ke luar negeri.

Awalnya setelah lulus S1 dengan predikat Cum laude dengan IPK 3,87 dari jurusan Hubungan Internasional, Universitas Hassanudin Makassar, anak pertama dari pasangan Azis Rachman dan Titin Dunggio ini kembali ke Gorontalo untuk bekerja di Yayasan Bina Mandiri sebagai staf. Sembari bekerja, Ayu juga mulai mendata kebutuhan untuk melamar beasiswa pendidikan. Ayu mengaku bahwa tantangan terbesar dalam melamar beasiswa adalah kemampuan menyesuaikan diri jika terjadi perubahan rencana.

“Terkadang saat semangat kita meluap-luap lalu dibenturkan dengan realita yang tidak sesuai dengan harapan, semangat tersebut bisa tiba-tiba hilang entah kemana. Ingatlah bahwa yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan berusaha sebaik mungkin mempersiapkan semua yang dibutuhkan,” ujar perempuan yang telah berusaha mengasah skill bahasa Inggrisnya dengan terlibat dalam Organisasi Debat Bahasa Inggris dan Model United Nations (MUN), juga telah menjadi delegasi Indonesia di beberapa Negara sewaktu masih S1.

Perempuan berhijab alumnus SMA Negeri 3 Gorontalo kelas Akselarasi ini mengakui bahwa alasannya mendaftar beasiswa LPDP ketika itu karena dirinya berkeinginan untuk meningkatkan kualifikasi dan mempersiapkan kompetensinya sebagai tenaga pendidik/dosen dan pengelola perguruan tinggi salah satu PTS di Gorontalo. Hal tersebut pun menuntun dirinya untuk memilih untuk melanjutkan pendidikan S2 di University College London yang merupakan universitas rangking satu dalam QS World University Rangking sebagai Universitas dengan jurusan pendidikan terbaik di dunia selama tiga tahun berturut-turut (2014-2017), mengalahkan universitas ternama lainnya di dunia seperti Harvard dan Oxford Universities.

Selama tinggal di London, Unity in Diversity mungkin adalah istilah yang tepat untuk mendeskripsikannya. “Janggal rasanya, tapi di London saya tetap merasakan semangat kebhinekaan dalam artian berbeda-beda tetapi satu jua. Dalam perkuliahan di kelas, mahasiswa di tuntut untuk lebih aktif bertukar ide. Setiap pertemuan kami selalu di berikan problematika pendidikan yang kemudian kita kaji per kelompok. Essay minimal 5.000 kata dengan disertasi saya minimal 20.000 kata. Selama di Inggris saya banyak menulis di blog dan bisa dibaca di www.iuscript.wordpress.com),” ungkap perempuan berkacamata tersebut.

Dulunya sewaktu masih SMP, Ayu mengakui bahwa nilai bahasa Inggrisnya selalu merah. Tapi ketika akhir SMP, Ayu mulai tertarik membaca Harry Potter. Karena belum banyak terjemahannya, akhirnya Ayu memaksakan diri untuk membaca versi Inggrisnya. Sehingga konsekuensinya, Ayu pun menjadi belajar bahasa Inggris secara tidak langsung.

Kepada generasi muda yang punya mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, Ayu berpesan bahwa cara belajar itu tidak harus seragam. Kalau temanmu pintar bahasa Inggris karena baca buku, belum tentu metode yang sama cocok buatmu. “Jangan takut untuk berbeda, jangan takut untuk sendiri berproses, nikmati pencapaian-pencapaian kecil. Thank yourself. Kalau tidak tahu bahasa Inggris, mulailah belajar. Tidak ada orang yang berkarya pertama kali langsung bagus, pasti jelek dulu. Tapi dari belajar, kita jadi lebih baik dan lebih baik lagi. Coba bandingkan Iphone 2G dengan Iphone X. Kalau saja Steve Jobs tidak pede, Apple tidak akan jadi perusahaan multinasional raksasa dengan pemasukkan terbanyak sepanjang sejarah, seperti hari ini.” tutupnya. (ZT-08)

(Visited 3 times, 1 visits today)

Komentar