Ekonomi

Ramadan Produktif, Mahasiswa di Gorontalo Meniti Kemandirian Lewat Lapak Takjil

×

Ramadan Produktif, Mahasiswa di Gorontalo Meniti Kemandirian Lewat Lapak Takjil

Share this article
Ramadan Produktif, Mahasiswa di Gorontalo Meniti Kemandirian Lewat Lapak Takjil
Mahasiswa di Gorontalo tengah berjualan takjil. (Foto: Ummul/Mahasiswa magang UNG)

Hargo.co.id, GORONTALO – Semangat kemandirian di bulan suci Ramadan terlihat dari sekelompok mahasiswa yang memanfaatkan momen tersebut dengan berjualan takjil.

Berita Terkait:  KAI Daop 7 Madiun Layani 13.210 Penumpang pada Hari Pertama Nataru 2025/2026

Berlokasi di sekitar area kampus di Gorontalo, mereka mulai membuka lapak setiap sore menjelang waktu berbuka puasa.

Usaha ini bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga menjadi langkah nyata untuk belajar mandiri dan tidak terus bergantung pada orang tua.

Berita Terkait:  Operasi SAR Longsor Banjarnegara Ditutup, Kementerian PU Tetap Siagakan Alat Berat dan Dukung Kebutuhan Pengungsi

Keputusan untuk berjualan takjil bermula dari keinginan mengisi Ramadan dengan kegiatan positif sekaligus menghasilkan uang tambahan.

Dengan modal awal yang berasal dari tabungan pribadi, para mahasiswa ini memberanikan diri memulai usaha kecil-kecilan tanpa meminta bantuan dana dari keluarga.

Berita Terkait:  Perkuat Sinergi BRI Group, BRI Finance Beri Penawaran Spesial di Pameran Kendaraan

“Kami ingin belajar mandiri dan memanfaatkan momen Ramadan sebaik mungkin,” ujar Siska (21), Sabtu (21/2/2026).

Beragam takjil ditawarkan, mulai dari risol, es buah, puding, gabin, tahu walik, bubur, hingga aneka jajanan lainnya.

Berita Terkait:  BINUS Fun Carnival 2025: Festival Kolaboratif BINUS @Malang yang Satukan Komunitas, Pelajar, Mahasiswa, dan Digital Technopreneur Muda

Menu tersebut dipilih karena banyak diminati masyarakat saat berbuka puasa, harganya terjangkau, dan proses pembuatannya bisa dilakukan sendiri.

Setiap hari, puluhan porsi takjil terjual dengan harga berkisar antara Rp3.000 hingga Rp6.000 per porsi, sehingga dapat dijangkau oleh berbagai kalangan.

Berita Terkait:  Jasa Marga Raih 5 Penghargaan dan Tantang Gen Z Berinovasi Lewat Travoy

Lapak takjil mulai buka setelah salat Asar, sekitar pukul 16.00 Wita, dan beroperasi hingga menjelang azan Magrib.

Meski harus membagi waktu antara kuliah dan berjualan, mereka mengaku tetap memprioritaskan tugas akademik.

Berita Terkait:  Apakah Bitcoin Akan Menembus US$100.000? Clarity Act dan Sentimen Makro Jadi Sorotan Pasar Kripto

Jualan dilakukan di waktu senggang, sehingga aktivitas perkuliahan tidak terganggu.

Namun, perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Tantangan seperti mengatur waktu, menjaga kualitas rasa, menghadapi persaingan, hingga cuaca yang tak menentu menjadi bagian dari proses yang harus dihadapi.

Berita Terkait:  Kejar Target Pemulihan Pascabencana di Aceh, Kementerian PU Terus Tangani Ruas Utama agar Bisa Segera Dilalui

Meski demikian, keuntungan yang diperoleh setiap hari cukup membantu untuk menambah uang jajan,

memenuhi kebutuhan kuliah, serta disisihkan untuk biaya pulang kampung. Sebagian hasil penjualan juga diputar kembali sebagai tambahan modal usaha. (Mg-06) 

Berita Terkait:  BRI Sudirman Semanggi Dukung Penguatan Intermediasi Nasional melalui Partisipasi Aktif dalam Kick Off Program PINISI Bank Indonesia