Hargo.co.id, GORONTALO – Seorang pasien yang dirawat di rumah sakit MM Dunda Limboto AN (38), warga Limboto, mengaku mengalami hal aneh usai menjalani proses persalinan di RS MM Dunda.
Persalinan normal yang berlangsung 25 Februari 2019 itu sejatinya berlangsung lancar, hanya saja pasca persalinan, atau saat ia sudah kembali ke rumah, perut AN kembali membengkak. Bahkan, saat buang air besar (BAB), kain kasa keluar dari perutnya. Merasa yang tak beres dengan proses persalinanya, AN kemudian kembali mendatangi RS MM Dunda.
“Saya melahirkan normal di RS MM Dunda Limboto. Tanggal 25 Februari atau sehari setelah itu, sudah langsung pulang ke rumah. Sampai di rumah, perut saya membengkak, sakit. Empat hari kemudian, saya buang hajat tiba-tiba jatuh benda aneh. Awalnya, saya kira itu daging apa, tapi setelah di raba ternyata kain kasa,” ujar AN ketika diwawancarai awak media.
Menyusul kejadian itu pun, keesokan harinya AN bergegas menemui pihak RS MM Dunda Limboto untuk mempertanyakan hal tersebut. Dari itu pihak rumah sakit pun melakukan USG. Hasilnya menurut AN, terlihat semacam tiga gumpalan. Dia mengaku tak tahu apa itu tetapi menurut penjelasan dokter jika didinding rahimnya kotor dan perlu dilakukan kuret.
Ketika hendak pula, AN membeberkan akan diganjar biaya dengan total Rp 1.752.000. Anehnya, setelah akan melakukan pembayaran, justru tak jadi bayar. Kwitansi yang ada ditangannya diminta untuk dikembalikan oleh pihak rumah sakit.
“Keanehan ini tentu yang membuat saya jadi bertanya-tanya. Ada apa,” katanya.

Pasien NA (nampak belakang) saat sudah diperbolehkan pulang kemarin usai melakukan kuret.
Terpisah, Direktur RS MM Dunda Limboto Natsir Abdul membantah adanya dugaan malpraktek.
Sakit perut yang dirasakan pasien tersebut karena ada kotoran di rahim sehingga perlu dilakukan kuret. Pasien akan merasa enak setelah dikeluarkan kotoran tersebut dikeluarkan.
“Saat pasien masuk, dokter sudah melakukan USG. Dan memang ada tersisa plasenta dan harus dibersihkan. Setelah dibersihkan barulah normal. Kalau kain kasa, posisinya berada di luar uterus. Sebenarnya itu sampai seminggu dan sebenarnya pula tidak akan berakibat fatal. Hanya menimbulkan bau saja,” ujar Natsir.
Natsir juga menegaskan, biasanya untuk persalinan memang salah satunya adalah penggunaan kain kasa. Ini demi menekan pendarahan.
“Mungkin saja karena ada pendarahan sehingga digunakan kain kasa pada pasien tersebut. Jadi ini tidak masalah,” katanya.
Sementara itu Kabid Pelayanan Medis RS MM Dunda Limboto Andi Kurniati Naue mengakui sudah mendapatkan informasi pada sabtu malam terkait kondisi pasien tersebut. Dari situ pihaknya langsung menelusuri proses persalinannya dan saat itu juga sudah dilaporkan ke etika perawat untuk memanggil orang-orang tersebut untuk di periksa.
“Tadi pagi sudah kita lakukan berita acara pemeriksaan (BAP). Jadi pihak RS MM Dunda Limboto tak tinggal diam dan memang dari hasil USG masih ada sisa plasenta. Jadi bukan karena kain kasa ini yang menyebabkan pasien sakit perut tetapi ada penyakit lain dan harus dibersihkan melalui kuret.
Menyusul temuan itu, pihak rumah sakit akan memproses masalah ini untuk melihat apakah ada etika dan prosedur yang terlewatkan. Pihaknya kini masih menunggu keputusan direktur,” ujar Andi.

Pihak RS MM Dunda Limboto saat melakukan klarifikasi atas kejadian yang menimpa pasien NA.
Andi juga menambahkan, terkait dengan tidak membayarnya pasien semata-mata bukan karena kompensasi karena kesalahan tetapi pasien masih dalam tahapan rangkaian perawatan di RS MM Dunda Limboto.
“Memang dia pasien umum sehingga pulang harus bayar dan ketika masih ada keluhan berhubungan dengan kondisi awal, maka masih menjadi tanggungjawab kami untuk menyelesaikan, jadi bukan kami salah terus kami gratiskan, karena saat dia pulang pertama sudah tercover biaya tindakan pra persalinan, persalinan dan pasca persalinan,†tandasnya. (wie/hg)
