Ekonomi

Selisih Harga Bumbu Dapur di Kota Gorontalo dan Bonbol, Ini Pemicu Utamanya

×

Selisih Harga Bumbu Dapur di Kota Gorontalo dan Bonbol, Ini Pemicu Utamanya

Share this article
Selisih Harga Bumbu Dapur di Kota Gorontalo dan Bonbol, Ini Pemicu Utamanya
Aktivitas pedagang di Pasar Sentral Kota Gorontalo. (Foto: Ummul Hair/Mahasiswa magang UNG)

Hargo.co.id, GORONTALO – Harga sejumlah bahan pokok di Kota Gorontalo dan Bone Bolango menunjukkan perbedaan pada pekan ini.

Berita Terkait:  Cuan Lovers Community Gandeng Syailendra Capital Perkuat Literasi Investor Ritel melalui Forum “360° Market View: What to Watch & Where to Play in 2026”

Komoditas utama seperti cabai, bawang merah, dan tomat tercatat lebih mahal di Pasar Rabu Bone Bolango (Bonbol) dibandingkan Pasar Sentral Kota Gorontalo.

Di Pasar Sentral, cabai dijual sekitar Rp55.000 per kilogram, bawang merah Rp45.000 per kilogram, dan tomat Rp10.000 per kilogram.

Berita Terkait:  KAI Daop 6 Yogyakarta Dukung Wisata Inklusif Yayasan Rumah Difabel Indonesia dalam Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025 di Stasiun Solo Balapan

Sementara di Pasar Rabu Bone Bolango, harga cabai mencapai Rp60.000 per kilogram, bawang merah Rp50.000 per kilogram, dan tomat Rp13.000 per kilogram.

Selisih harga cabai dan bawang merah mencapai Rp5.000 per kilogram, sedangkan tomat terpaut Rp3.000 per kilogram.

Berita Terkait:  Dari Toko Sparepart ke Precision Parts Sourcing: Transformasi Bisnis Otomotif Era Digital

Meski tidak terlalu jauh, perbedaan ini cukup dirasakan pembeli, karena ketiga komoditas tersebut merupakan bahan utama dalam kebutuhan dapur sehari-hari.

Pedagang cabai di Pasar Sentral, Nurhayati Abdullah, mengatakan harga masih bertahan karena pasokan dari daerah pemasok belum sepenuhnya stabil.

Berita Terkait:  Ketahanan Rantai Pasok Jadi Fokus Strategi Operasional di Tengah Geopolitik Global

Menurutnya, jumlah barang yang masuk ke pasar memengaruhi harga jual di tingkat pedagang.

“Kalau kiriman banyak, harga biasanya turun. Sekarang stoknya belum terlalu banyak, jadi harga masih seperti ini,” ujarnya.

Berita Terkait:  Dari Perkampungan Urban Jakarta Mendunia: Ikon Rock Legendaris Shirley Manson (Garbage) Kenakan Label Fashion Berkesadaran Asal Indonesia, Fuguku, di Atas Panggung

Sementara itu, pedagang bawang merah di Pasar Rabu Bone Bolango, Rahmat Hidayat, menilai perbedaan harga dipengaruhi oleh sistem hari pasar dan ongkos distribusi.

Ia menyebut lonjakan pembeli saat hari pasar tidak selalu diimbangi dengan pasokan barang yang memadai.

Berita Terkait:  MoraRepublic dan HMN Tech Bangun Jalur Arteri Digital yang Menghubungkan Indonesia dan Singapura

“Kalau hari pasar, pembeli ramai sekali. Tapi barang yang datang kadang terbatas, jadi harga sedikit lebih tinggi dibanding di kota,” katanya.

Di sisi lain, pembeli mulai menyiasati kondisi tersebut dengan membandingkan harga sebelum berbelanja dalam jumlah besar. Siti

Berita Terkait:  Kebutuhan Internet Meningkat, Ini Tips Memilih WiFi Terbaik untuk Rumah

Aminah, warga Bone Bolango, mengaku kini lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran rumah tangga.

Menurutnya, selisih beberapa ribu rupiah per kilogram cukup berdampak jika membeli dalam jumlah banyak.

Berita Terkait:  KAI Daop 1 Jakarta Kenalkan Rumah Sakit Provider kepada Pekerja: Semakin Melayani Hingga Internal Perusahaan

Warga berharap ketersediaan pasokan tetap terjaga agar harga bahan pokok tidak mengalami lonjakan, terutama menjelang masa meningkatnya kebutuhan masyarakat.(Mg-06)