Jakarta, Hargo.co.id – Media sosial ramai memperbincangkan puisi yang dibawakan oleh ibu Sukmawati Soekarno Putri, seorang budayawan dan juga politisi. Puisi yang berjudul “Ibu Indonesia†ini ia baca saat pagelaran Busana 29 Tahun Anne Avantie dalam Indonesia Fashion Week beberapa waktu lalu.
“Saya memahami bahwa beliau adalah seorang budayawan , sehingga kalimat yang diucapkan lebih menonjolkan sisi budaya wanita Indonesia dengan tampilan kebaya, konde, cara berjalan yang gemulai dan suara nyanyian wanita,†ungkap Bahmid saat sidang paripurna DPD RI di Nusantara V, Jakarta (3/4).
Bahmid mengingatkan bahwa mayoritas rakyat Indonesia adalah muslim, sehingga cara Sukmawati seperti mempertentangkan budaya dan Islam dalam puisi itu terasa provokatif dan bisa melukai kaum muslimin.
“Membandingkan tampilan budaya bangsa Indonesia yaitu dengan baju kebaya, dengan rambut berkonde, dan cara jalan yang gemulai serta suara kidung yang biasa dinyanyikan dengan tampilan seorang muslimah dengan cadarnya dan juga suara adzan, sangat tidak apple to apple. Jika membandingkan budaya Indonesia dengan budaya lain untuk meningkatkan kebanggaan terhadap budaya sendiri, maka itu tak masalah. Namun ini menjadi sangat tidak elok karena membenturkan apa yang selama ini telah terbangun antara budaya Indonesia yang luhur dengan nilai nilai Islam di nusantara yang telah ada sejak duluâ€, ia melanjutkan.
Bagi Ketua MUI Provinsi Gorontalo ini, menjadi seorang muslimah dengan memakai pakaian yang diperintahkan oleh Allah adalah kewajibannya dan selayaknya dihormati, tidak perlu dibenturkan dengan Baju Kebaya, sebagai warisan budaya Indonesia. Begitu pula adzan yang merupakan panggilan Allah untuk orang-orang mendirikan shalat, tidak layak disandingkan dengan suara kidung nyanyian.
“Terakhir yang ingin sama sampaikan bahwa kita bisa menjadi seorang Indonesia dengan nasionalisme yang tinggi tanpa harus meninggalkan nilai – nilai Islam. Kepada ibu Sukmawati, kami meminta untuk segera minta maaf dan mencabut kata-kata dalam puisi tersebutâ€, tegas Senator dari Gorontalo ini menutup pernyataan sikap politiknya. (hg/rah/DPDRI)
