Ilustrasi, Tambang batu kapur. (Istimewa)

Soal Tambang Batu Kapur di Boalemo, Dua Eks Pejabat Saling Tuding

Metropolis

Hargo.co.id, GORONTALO – Mantan Wakil Gubernur Gorontalo, Idris Rahim, angkat bicara saat dikonfirmasi terkait rencana pertambangan batu kapur di Desa Olibu, Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo.

Kepada Hargo.co.id, Idris Rahim, mengungkapkan, jika saat ini baru tahap sosialisasi, sembari mengurus izin-izin yang menjadi persyaratan.

banner 728x485

“Ketemu dengan Pak Darda, beliau yang tahu kegiatannya,” jawab Idris Rahim, melalui sambungan WhatsApp-nya, Selasa (10/01/2023).

Terkait alat berat yang diamankan oleh pihak Polsek Paguyaman Pantai, Idris Rahim mengatakan, jika alat berat belum bisa digunakan, selama izin-izin belum lengkap.

“Lokasi itu ditunjuk dengan surat oleh Bupati Boalemo, Bapak Rum Pagau ke saya dan teman-teman, untuk dikelola. Cuma sudah cukup lama, karena perlu modal, sehingga perlu investor,” kata Idris Rahim.

Sebagai informasi, Rum Pagau sudah lama tak menjabat Bupati Boalemo. Berbeda dengan keterangan Idris Rahim, Rum Pagau justru menampik, jika dirinya yang menyurat ke Pemprov Gorontalo perihal batu kapur di Boalemo.

“Bukan saya menyurat, tapi orangnya Pak Idris Rahim yang bermohon dulu,” bantah Rum Pagau, Selasa (10/01/2023) malam.

Sebagai Bupati Boalemo pada saat itu lanjut Rum Pagau, tentu mempersilahkan dan memudahkan setiap pengusaha yang ingin berinvestasi di Boalemo.

“Iya, para investor diberikan kemudahan untuk berinvestasi,” katanya, singkat.

Mantan Sekda Provinsi Gorontalo Darda Daraba, yang juga disebut-sebut dibalik hadirnya perusahaan batu kapur ini, belum menjawab pertanyaan awak media Hargo.co.id lewat WhatsApp, Selasa (10/01/2023).

Seperti diberitakan oleh Hargo.co.id pada Ahad (08/01/2023), Polisi mengamankan alat berat yang rencananya bakal digunakan untuk menambang di lokasi batu kapur.

Alasan Polisi mengamankan alat berat itu menurut Kapolsek Paguyaman Pantai, IPDA Dedi Maadi, tak lain guna mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan terjadi di tengah masyarakat.

Sebab ia ketahui, bahwa pengelolaan batu kapur di Wilayah Paguyaman Pantai sendiri, belum mendapat izin dari pihak terkait.

“Direktur perusahaan mengaku sudah dapat izin. Tapi begitu di kroschek melalui Bidang Pertambangan Provinsi, belum ada. Sehingga tidak dibenarkan beraktivitas,” jelas IPDA Dedi.

Sementara itu, menurut warga setempat, Gunawan Rasid, rencana Pembangunan pabrik batu kapur di Desa Olibu, perlu dipertimbangkan.

“Jika perusahaan ingin beroperasi di Desa kami, harus mengurus perizinan, harus jelas AMDAL. AMDAL pun harus memperhatikan satwa liar yang ada Di Desa Olibu,” kata dia, Selasa (10/01/2023).

Desa Olibu kata dia, mempunyai kelelawar, yang kelelawar tersebut menjadi Icon Desa Olibu dan menjadi bahan penelitian mahasiswa pertanian Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

“Belum lagi bicara polusi yang dampaknya mengganggu saluran pernapasan. Apakah kami akan menggunakan masker setiap hari ? kalau alasan perusahaan akan menyediakan saringan debu, saya pikir itu tidak rasional, karena rencana pembangunan pabrik itu sangat dekat dengan masyarakat,” keluhnya.

Desa Olibu kata Gunawan Rasid, sangat kecil. Lalu, apabila Pabrik ini dibangun di atas pemukiman warga yang memanfaatkan batu di pinggiran bukit, bisa dipastikan satu atau dua tahun ke depan, Desa Olibu bakal hancur dihantam longsor.

“Ketika batu terus diambil untuk diolah, maka kami akan kehilangan lahan tani yang di atas tanahnya ditanami jagung dan cabai, yang menjadi mata pencaharian orang tua kami,” tuturnya.

Lebih lanjut kata Gunawan Rasid, misalnya ketika sudah mendapatkan hasil, maka besar kemungkinan perusahaan akan menyediakan Pelabuhan lagi untuk mobilisasi.

Artinya, jika seperti itu, maka hadirnya perusahaan nanti, berdampak buruk terhadap habitat laut. Karang-karang akan rusak, dan pada akhirnya ikan-ikan berpindah tempat pula.

“Kalau sudah tidak ada ikan, pasti nelayan di Desa kami mencari ikan di lautan lepas,” ungkapnya.

Gunawan Rasid mengungkapkan, saat Perusahaan melakukan sosialisasi pada Ahad (08/01/2023) di Kantor Desa Olibu, pihaknya dijanjikan lapangan pekerjaan.

“Namun saya tegaskan bahwa kami punya pekerjaan, bertani dengan penghasilan yang banyak, nelayan dengan hasil ikan yang banyak pula, cukup menghidupi kebutuhan kami, daripada di masa mendatang kami harus kehilangan semuanya,” ungkapnya.

Intinya kata dia, selaku warga setempat, ia menolak dengan tegas perusahaan pabrik batu kapur di Desa Olibu.

“Kami tidak bisa memegang janji-janji pihak perusahaan, kami cukup belajar banyak hal dari perusahaan batu pecah yang pernah beroperasi di Desa Limbatihu Paguyaman Pantai. Tidak ada reklamasi, jalan hancur, pelabuhan sudah tidak ada gunanya, alam hancur,” bebernya.

“Sekali lagi, kami menolak, demi kelestarian alam lingkungan, demi warga, demi kesehatan generasi, dan demi masa depan Desa Olibu,” tandasnya. (*)

Penulis: Abdul Majid Rahman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *