Tarian Dayango, Tarian Ekstrim di Atas Bara Api

×

Tarian Dayango, Tarian Ekstrim di Atas Bara Api

Sebarkan artikel ini
Salah seorang penari dayango yang melakoni gerakannya di atas bara api. )Foto Irfan/Humas Kabgor)

Hargo.co.id, GORONTALO – Tarian ini memang terlihat cukup ekstrim. Menari di atas bara api yang menyala-nyala dengan kaki telanjang. Bahkan beberapa penari nekat memakan bara api. Tapi ternyata dulunya, tari yang dinamakan Dayango ini merupakan bentuk wujud syukur dan penghalau bala (bencana,red).

Tabuhan gendang memecah kesunyian malam di Desa Talumelito, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Selasa (19/6). Di tengah halaman yang cukup lapang, tumpukan bara api dari pembakaran tempurung kelapa tampak menyala-nyala. Tak jauh dari tumpukan bara itu, tujuh pria berpakaian serba hitam menari sambil memegang ayaman janur kuning.

Ratusan pasang mata yang berkumpul di areal halaman seakan tak beranjak melihat penampilan ketujuh pria yang mulai mendekati tumpukan bara api. Tak lama berselang, ketujuh pria itu langsung berjalan dan menyambar tumpukan bara api yang menyala-nyala. Tak ada alas kaki yang dilakukan. Dengan kaki telajang, para penari itu berjalan kesana kemari di atas bara. Bahkan di penghujung atraksi beberapa penari mengunyah bara api.

Uniknya, usai melakoni aksi ektrim itu, para penari tampak sehat walafiat. Tak ada luka bakar yang dialami meski beberapa kali berjalan di atas bara api.

Atraksi yang dilakoni ketujuh pria itu disebut dengan Tari Dayango. Di kalangan masyarakat Gorontalo saat ini, tari tersebut sudah cukup jarang dilaksanakan. Pada zaman dahulu, Tari Dayango digelar sebagai bentuk syukuran, penghalau bala dari kejadian-kejadian alam, dan mengobati orang sakit.

Makin minimnya masyarakat menggelar Tari Dayango membuat Pemkab Gorontalo berupay menghidupkan kembali. Langkah itu sebagaimana dilaksanakan di Desa Konservasi Budaya Talumelito, yang menghadirkan atraksi Tari Dayango.

Ritual tarian Dayango ini rencananya juga akan dipromosikan pada setiap even pariwisata tahunan Festival Danau Limboto.

“Agar lebih dikenal maka atraksi menari di atas api ini akan terus kita promosikan dengan kegiatan bertaraf nasional, yakni di Festival Danau Limbto nanti,” kata Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo usai menghadiri rangkaian penutupan Tumbilotohe di desa Konservasi Budaya Talumelito Kecamatan Telaga Biru dirangkaikan dengan persembahan Ritual Dayango, (19/06).

Ritual Dayango sendiri adalah ritual yang sudah dilakoni oleh masyarakat Gorontalo zaman dulu sebelum masuknya agama Islam. Dahulu masyarakat menggelar dayango untuk berbagai kegiatan, salah satunya dipercaya untuk menyembuhkan orang sakit.

Namun kini, Dayango lebih banyak dijumpai dalam rangka syukuran. Seoerti yang dilakukan kemarin, Dayango sengaja dibuat dalam rangka syukuran usai pelaksanaan bulan suci ramadhan atau tumbilotohe.

“Khusus hari ini dilaksanakan karena syukuran sudah selesai melaksanakan bulan ramadhan,tumbilotohe, tonggolo opo dan berbagai kegiatan disini,” Ucap Nelson

Sementara itu salah satu pawang sekaligus budayawan di Desa Talumelito Suharlim Katili menambahkan, Secara garis besar, ritual ini awalnya adalah ritual memanggil ruh, atau biasa disebut “ritual memanggil setan”. Pada ritual ini 3 orang penari atau lebih yang dilakoni orang dewasa ini akan menari-nari untuk memanggil ruh leluhur.

“Ritual ini kerap diartikan sebagai tarian ‘pemanggilan’ roh atau bermain dengan setan, yang tujuannya adalah untuk memperbaiki suatu kampung dari berbagai macam bala (malapetaka.), menyembuhkan penyakit karena bala,” jelas Suharlim.

Seiring perkembangan zaman, dan masuknya nilai-nilai Islam, maka budaya ritual ini perlahan mulai hilang karena dianggap menyimpang dari ajaran Agama. Untuk menjaga agar ritual agar tetap lestari, maka dihilangkan beberapa prosesi yang dinilai syirik.Hal ini untuk menghilangkan stigma negatif terhadap ritual Dayango.

“Makna tarian Dayango ini sebenarnya adalah untuk mengucap rasa syukur kepada Sang Pencipta. Untuk itu kali ini digelar sebagai wujud rasa syukur karena telah menunaikan ibadah puasa ramadhan dan Idul Fitri,” jelas Suharlim.

Hal ini juga, kata Suharlim, telah disosialisasikan di masyarakat dan melalui jalur pendidikan formal yang ada di Kabupaten Gorontalo. Kegiatan tarian dayango ini diawali dengan ritual makan api dan dilanjutkan ritual dayango menari-mari diatas api dengan tujuan mematikan bara api (Memati Tulu ).

Ritual yang dipadati masyarakat tersebut turut dihadiri pemerhati budaya dari Jakarta juga orang Gorontalo yang sudah lama di Jakarta dipimpin Carolina Kaluku. Turut hadir pula, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Gorontalo Fory Naway, Pimpinan OPD, Camat telaga Biru Syaiful Hippy,para kades se telaga biru serta undangan lainnya.(nat-gp/hg)