Hargo.co.id, GORONTALO – Sambil tetap menjalani pekerjaannya, Stein Anthony merintis usaha kuliner yang terinspirasi dari konsep street food Thailand.
Ide tersebut muncul setelah ia melihat langsung perkembangan jajanan kaki lima di Thailand yang dinilai kreatif, berkarakter, dan memiliki potensi pasar yang luas.
Berbekal keberanian memanfaatkan peluang, Stein kemudian membawa konsep tersebut ke Gorontalo.
Menurut Stein, konsep serupa sebenarnya sudah berkembang di Pulau Jawa, namun umumnya dikemas dalam segmen premium dan menyasar pasar terbatas.
Melihat celah tersebut, ia memilih menghadirkan produk dengan kualitas tetap terjaga, tetapi menyasar kalangan menengah ke bawah agar lebih mudah dijangkau oleh masyarakat Gorontalo.
Usaha yang mulai berjalan sejak pertengahan tahun 2025 itu masih tergolong baru. Meski demikian, kehadirannya mampu bersaing di tengah persaingan kuliner lokal karena menawarkan konsep yang berbeda.
Respons masyarakat pun terbilang positif, terbukti dari penerimaan yang cukup luas di berbagai kalangan.
Dalam perjalanannya, usaha ini menunjukkan perkembangan yang signifikan. Saat ini, Stein mencatat omzet kotor berkisar Rp60 juta hingga Rp70 juta per bulan, sebuah capaian yang cukup menjanjikan untuk usaha yang usianya belum genap satu tahun.
Untuk tahun ini, Stein mengaku belum menetapkan target khusus. Namun, ia tetap mengarahkan fokus usahanya pada rencana ekspansi cabang sebagai langkah strategis untuk memperluas jangkauan pasar dan memperkuat keberlanjutan usaha.
Lebih jauh, Stein Anthony menegaskan bahwa misinya tidak hanya berorientasi pada bisnis,
tetapi juga memperkenalkan potensi kelapa Gorontalo ke luar daerah.
Ia berharap, meski konsep yang diusung sudah ada,
brand yang dibangunnya mampu menghadirkan pembeda sekaligus mengangkat nama Gorontalo ke tingkat yang lebih luas.(MG-23)












