Kamis, 8 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Terkait Tapal Batas, Dua Kepala Desa Mengadu ke DPRD

Oleh Admin Hargo , dalam Legislatif , pada Kamis, 22 September 2022 | 02:05 Tag: ,
  Wakil Ketua , Roni Imran saat menerima aduan 2 kades terkait dengan batas wilayah yang masuk ke Kabupaten Gorontalo, Senin (19/9/2022).

Hargo.co.id, GORONTALO – Gara-gara tapal batas, dua orang kepala desa (Kades) di Kwandang, Gorontalo Utara (Gorut), mengadu ke DPRD. Maklum, kedua Kades tersebut wilayahnya kini diduga masuk ke Kabupaten Gorontalo. 

Kedua Kades ini dari Desa Botuwombato dan Desa Pontolo Atas, Kwandang pada Senin (19/9/2022) dan diterima langsung oleh Wakil Ketua DPRD Gorontalo Utara, Roni Imran..

Menurut Kepala Desa Botuwombato, Mahmud Mulyadi, pihaknya datang menemui wakil rakyat untuk melaporkan batas antara Kabupaten Gorontalo dengan Gorontalo Utara. 

“Bahwa batas antara Kabupaten Gorontalo dengan Gorontalo Utara yaitu desa saya yang berada di antara dua kabupaten ini. Nah pada saat ini kami datang ke DPRD untuk memohon petunjuk dan tentang tapal batas di antara ini agar nasib di dua daerah ini selaku pemerintah desa mengharapkan tindak lanjut dan dukungan di DPRD,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan oleh Mahmud Mulyadi, yang mereka amati dari rencana pembangunan tapal batas, itu sudah memasuki wilayah dari Gorontalo Utara. 

“Kalau kami lihat mereka akan membangun tapal batas itu sudah lewat dari batas yang sudah ditentukan sejak pemekaran Gorontalo Utara,” kata Mahmud Mulyadi.

Sehingga pihaknya selaku pemerintah desa tentu merasa keberatan jika wilayahnya masuk ke daerah Kabupaten Gorontalo.

“Kalau sikap kami selaku pemerintah desa, kami tidak mau. Desa Botuwombato dan Desa Pontolo Atas, tidak ingin masuk dalam wilayah Kabupaten Gorontalo. Saat ini wilayah desa saya sudah 60 persen masuk wilayah Kabupaten Gorontalo,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Pontolo Atas, Hasan Husain, mengatakan bahwa kondisi desa yang dipimpinnya sama dengan sama Desa Botuwombato. Jika melihat dengan potensi termasuk taman wisata itu adalah salah satunya potensi yang ada di Desa Pontolo Atas. 

“Nah apabila itu akan dimasukkan di wilayah Kabupaten Gorontalo, maka tentunya kami selaku pemerintah untuk perencanaan kedepan tentang pembenahan taman itu akan hilang begitu saja, karena sudah masuk di perencanaan juga,” jelasnya.

Dibatas itu kata Hasan Husain, hanya ada beberapa kepala keluarga di Pontolo Atas karena apabila mereka masuk di Kabupaten Gorontalo mereka secara terang-terangan menolak. 

“Harapannya tentunya DPRD merupakan penyambung lidah rakyat ini diharapkan supaya DPRD juga bisa ambil bagian untuk persoalan tapal batas di Desa Botuwombato dan Pontolo Atas,” kata Hasan.

Menanggapi aduan tersebut, Roni Imran mengatakan bahwa pihaknya pasti akan menseriusi apa yang menjadi aduan dari dua desa tersebut. 

“Jadi begini, ini kan baru penyampaian kepala desa, kalau benar tapal batas itu di atas 100 meter masuk ke wilayah Gorontalo Utara ini kita harus serius. Ini harus diseriusi oleh pemerintah daerah dan tidak boleh terjadi, nah ini yang membangun ini mungkin kontraktor atau sebagainya dari pemerintah provinsi,” tegasnya.

Menurut Roni Imran, harusnya pemerintah provinsi juga ini harus sebelum pelaksanaannya harus ditinjau dulu, apakah ini ada potensi masalah atau tidak. 

“Kalau posisi sekarang pasti akan ada potensi masalah, kan tidak mungkin dua desa ini, akan hilang di Gorontalo Utara, bahkan tadi kurang lebih 60 persen sudah masuk. Saya kira ini harus duduk bersama, kami harap pemerintah provinsi bisa berkoordinasi dengan pemerintah di kedua daerah,” ujarnya.

Tentunya dengan harapan agar dapat dilihat tapal batas yang tidak dapat dan tidak terlalu kita persoalkan kalau tidak dipersoalkan oleh masyarakat. 

“Oleh karena itu kami selaku wakil rakyat merespon laporan ini dan dalam waktu dekat kita akan menindaklanjuti dengan komisi yang berhubungan dengan itu yang jelas Pemerintah menunda itu, sebelum ada kesepahaman bersama antara dua daerah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tandasnya. (***)

 

Penulis: Alosius M. Budiman

(Visited 47 times, 1 visits today)

Komentar