Tradisional, Namun Tetap Jadi Pilihan

×

Tradisional, Namun Tetap Jadi Pilihan

Sebarkan artikel ini

Hargo.co.id, ZETIZEN-GP – Zetizen Gorontalo pasti kenal dengan alat musik tiup yang terbuat dari bambu bernama Suling. Alat musik berukuran kecil ini sudah dimainkan sejak zaman purba sekitar 40.000 tahun yang lalu, dan hingga saat ini masih tetap populer di Indonesia sebagai pengiring musik tradisional. Namun sayangnya, Suling ini justru mulai kehilangan kepopuleran di kalangan remaja Indonesia yang seharusnya menjadi bagian dari pelestari alat musik tradisional ini.

Walaupun begitu, sedikit dari remaja Indonesia khususnya remaja Gorontalo masih memilih Suling sebagai alat musik favorit. Alasannya pun beragam, mulai karena merasa suling perlu dilestarikan, suling enak di dengar karena suaranya kecil, hingga alasan bahwa suling adalah alat musik yang menenangkan.

“Saya merasa nyaman dan damai ketika bermain suling, karena ia mampu menghasilkan suara yang lembut,” Ujar Faisal Saidi, salah seorang Flautist Gorontalo.

Tapi, seperti apa pendapat Zetizen Gorontalo tentang suling? yuk simak komentar mereka berikut ini! (ZT-11/hargo)

Faisal Saidi, Hukum Tata Negara IAIN Gorontalo

Dekat Dengan Masa Lampau – Mengapa saya sangat menyukai Suling? Karena ketika memainkannya saya merasa dekat sekali dengan masa lampau. Suling pun merupakan alat musik tradisional yang sampai sekarang masih sangat mudah ditemukan. Alunan warna dan bunyinya pun enak di dengar, sehingga membawa saya seakan hadir di masa lampau itu. (ZT-11)

Ilyas P. Putra Ismail, Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Gorontalo

Dipajang, Dilihat, Tanpa Digunakan – Suling itu alat musik tradisional yang menenangkan hati, pikiran, dan suasana karena menurutku suling itu identik dengan suasana pedesaan dan persawahan. Tapi sayangnya seiring berkembang zaman, suling sudah mulai dilupakan, yang ada Suling sekarang hanya banyak dijumpai di museum-museum musik. Dipajang, dilihat, tanpa digunakan. (ZT-11/hargo)