Rabu, 6 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



  

SENSUS  Ekonomi yang dilakukan pada bulan Mei 2016 telah usai. Kegiatan Sensus Ekonomi ini dilakukan setiap 10 tahun sekali. Tujuan dari kegiatan ini untuk mendapatkan data dasar struktur perekonomian terkini. Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi merilis data-data hasil pendaftaran usaha/perusahaan Sensus Ekonomi 2016. Beberapa informasi yang diperoleh diantaranya Jumlah usaha/perusahaan, jumlah tenaga kerja, klasifikasi lapangan usaha, jenis usaha menurut skala usaha. Sektor-sektor yang dicakup dalam kegiatan Sensus Ekonomi terdiri dari sektor-sektor di luar sektor pertanian.

Selama sepuluh tahun terakhir jumlah usaha/perusahaan di Provinsi Gorontalo menunjukkan perkembangan yang signifikan. Berdasarkan hasil Sensus Ekonomi 2016, jumlah usaha/perusahaan di Provinsi Gorontalo sebanyak 158.648 usaha/perusahaan. Angka ini meningkat 34,13 persen dari hasil Sensus Ekonomi 2006 yang sebesar 104.506 usaha/perusahaan.

Bertambahnya jumlah usaha dalam kurun waktu sepuluh tahun bukanlah angka yang sedikit. Mengingat krisis ekonomi yang dialami pada tahun 2008 membuat aktivitas ekonomi mengalami kemunduran.

BPS mengklasifikasikan usaha/perusahaan berdasarkan skala usaha, yaitu Usaha Mikro Kecil (UMK) dan Usaha Menengah Besar (UMB). Roda penggerak aktivitas perekonomian Provinsi Gorontalo selama sepuluh tahun adalah usaha/perusahaan berskala UMK. Meskipun pernah dilanda badai krisis ekonomi, tetapi usaha tersebut mampu bertahan dan berkembang.

Hal ini dibuktikan oleh Bank Dunia yang menyatakan bahwa UMK merupakan usaha yang mampu bertahan dalam kondidi krisis ekonomi. UMK juga mampu menjadi dinamisator dan stabilisator perekonomian secara global.

Keunggulan UMK dibandingkan UMB adalah mampu menyerap tenaga kerja , menopang usaha-usaha besar dan mampu bersaing dalam menciptakan produk baru yang dapat diterima oleh konsumen. Mengingat pentingnya akan usaha mikro kecil ini, pemerintah dan legistlatif membuat regulasi terkait UMKM yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2008.

Berdasarkan hasil Sensus Ekonomi 2016, jumlah UMK non pertanian di Provinsi Gorontalo mencapai 99,22 persen atau sebanyak 157.418 usaha/perusahaan. Angka tersebut cukup besar apabila dibandingkan dengan jumlah usaha berskala menengah dan besar (UMB) yang hanya berjumlah 1.230 usaha/perusahaan atau sekitar 0,78 persen.
Jumlah tenaga kerja UMK non pertanian di Provinsi Gorontalo tercatat sebanyak 279.131 orang. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk di Provinsi Gorontalo bekerja di lapangan usaha dengan skala UMK.

Dengan kata lain, sumber mata pencaharian utama penduduk di Provinsi Gorontalo berasal dari UMK. Di sisi lain, UMK tidak hanya menjadi sumber mata pencaharian penduduk Provinsi Gorontalo tetapi juga sebagai tumpuan aktivitas ekonomi bahkan hingga level kabupaten/kota.

Jika dilihat dari level kabupaten/kota, Kabupaten Gorontalo memiliki jumlah usaha terbesar di Provinsi Gorontalo, sehingga kontribusi terhadap jumlah UMK di Provinsi Gorontalo cukup besar, yaitu sekitar 33,27 persen. Sedangkan 17,39 persennya berada di Kota Gorontalo. Kabupaten Bone Bolango (14,02 %), Kabupaten Pohuwato (12,55%), Kabupaten Boalemo (11,68%), dan Kabupaten Gorontalo Utara (10,31%).

Beberapa faktor yang menjadikan UMK menjamur di Provinsi Gorontalo umumnya adalah biaya operasional yang rendah, proses perizinan yang mudah dan kecepatan inovasi dalam menghasilkan produk-produk baru.

Selain itu, resiko yang akan ditanggung sangat kecil sehingga faktor inilah yang menjadi penarik para pelaku ekonomi untuk terjun ke dalam dunia UMK. Dengan menjamurnya UMK di Provinsi Gorontalo memberikan dampak yang positif bagi perkembangan perekonomi.

Hal ini tercermin dari jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 90,52 persen dari total tenaga kerja nonpertanian di Provinsi Gorontalo. Semakin banyak usaha/perusahaan menyerap tenaga kerja produktif maka roda perekonomian akan semakin cepat berputar.
Berdasarkan Hasil Listing Sensus Ekonomi 2016, penguat sendi perekonomian Provinsi Gorontalo adalah sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi dan Perawatan Mobil & Sepeda Motor. Sektor perdagangan ini menjadi primadona bagi pelaku usaha ekonomi.

Hal ini tercermin dari jumlah usaha pada sektor tersebut mencapai 46,33 persen dari total usaha/perusahaan non pertanian di Provinsi Gorontalo. Dari 73.497 usaha/perusahaan sebesar 99,45 persennya adalah usaha berskala UMK. Besarnya usaha/perusahaan pada sektor ini memperlihatkan bahwa masyarakat Provinsi Gorontalo cukup konsumtif. Daya beli masyarakat mengalami peningkatan sehingga sektor perdagangan tumbuh subur di Provinsi Gorontalo.

Jumlah usaha/perusahaan terbesar kedua berada pada sektor industri pengolahan yaitu sebanyak 24.910 usaha/perusahaan. Sektor ini hampir sepenuhnya ditopang oleh usaha/perusahaan berskala mikro kecil yaitu 99,82 persen. Meskipun usaha tersebut hanya berskala mikro ataupun kecil, tetapi pemerintah berupaya untuk terus mendorong berkembangnya usaha tersebut.

Beberapa arah kebijakan yang ditetapkan dalam RPJMD Provinsi Gorontalo Tahun 2012-2017 diantaranya adalah mendorong berkembangnya IKM, UMKM dan Koperasi, mengupayakan tersedianya sarana dan prasarana pengembangan SDM melalui tersedianya Balai Diklat KUMKM, Mendorong peningkatan keterampilan dan produktivitas tenaga kerja dengan indikator keberhasilan persentase penerapan teknologi dalam proses produksi UMKM.

Dengan adanya kebijakan pemerintah tersebut diharapkan mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pelaku usaha khususnya UMK.
Selain kedua sektor sebelumnya, terdapat hal menarik yang menggambarkan kondisi dunia pengangkutan dan pergudangan di Provinsi Gorontalo. Dari 19.654 usaha/perusahaan yang bergerak di sektor pengangkutan dan pergudangan terdapat 99,69 persen usaha/perusahaan berskala UMK.

Salah satu moda transportasi yang menjadi ciri khas Provinsi Gorontalo adalah bentor. Diawal kemunculannya di sekitaran tahun 2000an, moda transportasi ini berhasil menyingkirkan moda transportasi yang sudah ada sebelumnya di Provinsi Gorontalo pada umumnya.

Tercatat beberapa moda transportasi yang ada sebelumnya seperti Bendi, becak dan angkutan umum tidak berdaya menghadapi pesatnya perkembangan dan pertumbuhan angkutan bentor. Maraknya bentor di Provinsi Gorontalo mampu menyerap tenaga kerja di sektor Pengangkutan dan Pergudangan.

*Pegawai BPS Kota Gorontalo

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar