Sabtu, 3 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Warga Gorontalo Mulai Rasakan Dampak Kenaikan Harga BBM

Oleh Admin Hargo , dalam Metropolis , pada Sabtu, 24 September 2022 | 16:05
  Situasi unjuk rasa kenaikan harga bbm di kawasan Bundaran Saronde Kota Gorontalo beberapa pekan lalu. (Foto: Zulkifli Polimengo/HARGO)

Hargo.co.id, GORONTALO – Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (bbm) bersubsidi saat ini mulai dirasakan masyarakat di Gorontalo, khususnya para pengguna jasa transportasi maupun konsumen yang setiap hari harus memenuhi kebutuhan pokok.

Betapa tidak, naiknya harga bbm ini turut membuat tarif transportasi juga harus naik, sehingga hal tersebut menyebabkan angka inflasi di daerah cenderung merangkak naik.

Warga Gorontalo mengaku kenaikan harga bbm ini membuat pengeluaran mereka bertambah terutama untuk menebus kebutuhan pokok maupun biaya transportasi. Sejumlah pihak menyebut kenaikan harga bbm ini sangat besar kontribusinya terhadap rantai pasok sejumlah bahan pokok dan komoditas yang diperlukan masyarakat.

“Pengeluaran saya yg sekarang lebih banyak dibanding sebelum harga bbm dan tarif ojol naik,” ujar Ulfa Tangahu (pedagang di Pasar Tradisional Desa Gentuma, Gorontalo Utara, Sabtu (24/09/2022).

Lebih lanjut kata Ulfa akibat dari kenaikan ini, mau tidak mau ia harus lebih mengencangkan ikat pinggang. Ulfa berharap inflasi di daerah tidak akan naik lagi sehingga harga kebutuhan pokok hingga tarif ojol bisa kembali normal.

“Saya jadi harus bekerja lebih keras agar semua keperluan sehari – hari bisa terpenuhi. Saya juga harus pintar putar otak untuk berhemat. Bayangkan saja, karena inflasi, kenaikan bbm dan tarif ojol, biasanya pengeluaran hanya sekitar 3 jutaan per bulan, sekarang mencapai 4 jutaan,” kata Ulfa Tangahu.

Ulfa juga mengungkapkan, langkah penghematan yang dilakukan yaitu memilih naik angkutan umum dibanding ojol. Hal itu membuktikan bahwa walaupun ojol sudah menjadi kebutuhan konsumen masyarakat kelas bawah, bisa saja ditinggalkan apabila tarif jasa ojol tersebut naik.

 “Sekarang itu hampir semuanya naik harga, mulai dari barang-barang, bahan pokok, dan tarif transportasi. Saya itu sekarang harus lebih berhemat, makanya lebih memilih naik angkutan umum yang masih bisa ditawar,” ungkap Ulfa Tangahu.

Sementara itu hal senada juga diutarakan oleh seorang Mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Gorontalo, Nuryarifah, yang selama ini menggunakan jasa ojol untuk kuliah, mengutarakan kenaikan harga termasuk tarif ojol, membuat dirinya terseok lantaran pengeluarannya setiap bulan bertambah.

“Per bulan biasanya saya butuh sekitar sejuta tapi karena sekarang hampir semuanya naik, jadi saya harus minta biaya tambahan dari orang tua di kampung sekitar Rp500 ribu. Jadi, total kalau untuk pengeluaran per bulan saat ini itu sekitar Rp1,5 juta,” tutur Nuryarifah (Mahasiswa).

Selain itu Nuryarifah mengaku merasa prihatin dengan orang tuanya yang harus bekerja lebih keras untuk membiayai kuliahnya hingga biaya hidup sehari – hari. 

“Apalagi saya anak kost, jadi biayanya double,” keluh Nuryarifah.

Informasi yang berhasil dihimpun, dari sejumlah pihak menyampaikan kenaikan harga bbm dan transportasi ini telah membawa efek domino yang cukup membuat sebagian besar masyarakat ‘menangis’. Selain tarif ojol, kenaikan harga bbm juga ikut mendongkrak harga bahan pokok lainnya.(*)

 

Penulis: Zulkifli Polimengo

(Visited 105 times, 1 visits today)

Komentar