Waspada Aksi Penimbunan Beras

×

Waspada Aksi Penimbunan Beras

Share this article
Para petani ketika sedang melakukan panen padi

 

Hargo.co.id GORONTALO – Musim panen padi sawah serentak mulai dilakukan dihampir seluruh wilayah di Gorontalo. Bahkan, di wilayah yang selama ini dikenal menjadi sentra produksi padi seperti Kabupaten Gorontalo, Bone Bolango dan Pohuwato komoditi hasil panen gaduh ini dinilai sudah banyak yang beredar di pasaran.

Sayang, alih-alih bisa menekan harga pasaran, beras baru hasil pertanian sawah ini justru dilaporkan tambah mahal. Di pasaran, harga komoditi utama bahan kebutuhan pokok warga itu bahkan seolah sulit dikendalikan.
Kondisi ini kontan memicu spekulasi akan adanya indikasi penimbunan dan aksi borong pedagang beras kakap.

Tudingan ini muncul seiring makin sulitnya mengendalikan harga beras di pasaran.

“Dari indikator harga beras di pasaran memang tidak masuk akal. Harusnya, adanya pasokan beras baru harganya turun, tapi yang terjadi sebaliknya. Harga beras malah tambah mahal, bahkan terindikasi kuat sulit sekali dikendalikan,” kata Ibu Erni, pedagang makanan di kompleks pasar Sentral Limboto, Kamis (18/8).

Tak hanya di tingkat penggilingan padi, kenaikan harga beras kini kembali mulai berlaku di pasaran. Di sejumlah pasar tradisional di Gorontalo, harga beras sudah menembus Rp 10-12 ribu per kilogram.

Pantauan Gorontalo Post di pasar tradisional di kawasan Kota Barat, Kota Gorontalo setidaknya menunjukan hal itu. Di pasar mingguan itu, pedagang menjual harga beras paling murah Rp 8.500 per liter dan paling mahal hingga Rp 12 ribu per liter.

Harga beras murah merupakan beras stok lama yang telah dijual kembali oleh pedagang, beras dengan harga Rp 10 ribu adalah beras baru dengan kualitas premium serta Rp 12 ribu adalah beras pandang wangi dan sejumlah beras dengan cita rasa lebih enak dan harum.

Lukman, pedagang beras di pasar tradisional mengatakan, kenaikan harga beras ini tak bisa diprediksi. “Tiba tiba saja harga dari pemasok naik, makanya kita pedagang juga naikan,” katanya.

Memang beberapa waktu lalu, menurut Lukman, stok beras di tingkat petani dan gilingan padi menurun dan bahkan cenderung kosong. Hal inilah yang telah memicu kenaikan harga beras.

“Lalu stok kurang, kalaupun dapat hanya beras lama atau stok yang sudah tidak begitu baik, itu kami jual Rp 8 ribu-8.500 per liter,” ungkapnya.

Selain Lukman, pedagang lainnya juga mengaku, tak bisa berbuat apa apa denga harga beras yang cenderung terus melejit ini. “Kita tidak tahu kenapa beras mahal, mungkin karena lalu kemarau panjang, banyak yang gagal panen dan mungkin juga ada yang kirim ke Manado, karena harga pengambilan di sana lebih baik,” ungkapnya.(dix/dan/hargo)